Sabtu, 02 Februari 2013

Komponen Ekosistem

Komponen Ekosistem- Di Indonesia terdapat empat kelompok ekosistem utama, yaitu ekosistem bahari (laut), ekosistem darat alami, ekosistem suksesi, dan ekosistem buatan.
Gambar 10.1 Ekosistem daratGambar 10.1 Ekosistem darat
LINGKUNGAN HIDUP EKOSISTEM. Bila Anda amati kebun dan sawah pada Gambar 10.2, dapat Anda jumpai berbagai jenis makhluk hidup. Pada kebun terdapat banyak tanaman yang sedang berbunga dengan sepasang kupukupu sedang terbang lalu mengisap madu dan ada beberapa burung sedang membuat sarang di atas pohon, serta seekor burung elang bertengger di pelepah pohon kelapa sedang mengawasi tikus-tikus memakan tanaman padi di sawah. Di sebelah kebun terdapat tanaman padi terhampar di sawah dengan beberapa burung bangau sedang terbang di atasnya dan banyak cacing tanah yang sedang membuat lubang di sawah.
Jika kita perhatikan gambar tersebut, maka setiap makhluk hidup selalu memerlukan suatu lingkungan tertentu sebagai tempat hidupnya, seperti tanaman jagung habitatnya di kebun, tanaman padi habitatnya di sawah, burung elang habitatnya di atas pohon kelapa, cacing tanah habitatnya di sawah, dan sebagainya.
Gambar 10.2 Kebun berbatasan dengan sawahGambar 10.2 Kebun berbatasan dengan sawah
Tempat hidup tanaman jeruk memerlukan sedikit air, berada di kebun, adapun tempat hidup tanaman padi memerlukan banyak air, berada di sawah. Burung elang berada di atas pohon, tetapi cacing tanah berada di lubang tanah sawah. Tanaman jeruk dan padi atau cacing tanah dan burung elang tidak dapat hidup di padang pasir (gurun). Jadi, setiap makhluk hidup memerlukan tempat yang sesuai dengan cara hidupnya yang disebut niche.
Di manakah niche lingkungan udang dan belalang? Coba pikirkan! Seekor burung kutilang di atas pohon kelapa dan seekor burung elang bertengger di pelepah pohon kelapa disebut sebagai individu karena terdiri atas satu species makhluk hidup di tempat tertentu. Tetapi banyak tanaman kelapa sedang berbunga dengan beberapa kupu-kupu yang terbang di kebun disebut sebagai populasi karena terdiri atas kelompok individu lebih dari satu species yang menduduki areal tertentu.
Di sawah terdapat beberapa populasi yang terdiri atas kelompok tanaman padi dengan kelompok burung bangau sedang terbang di atasnya dan kelompok cacing tanah membuat lubang tanah, serta kelompok tikus sedang makan tanaman padi. Semua populasi berbagai macam species yang menempati suatu habitat disebut komunitas.
Di sawah itu juga terlihat adanya hubungan timbal balik antara tanaman padi, cacing, burung bangau dan tikus sebagai komponen hidup (biotik) dan sinar matahari, iklim, suhu, udara, air, dan tanah sebagai komponen tak hidup (abiotik) atau dengan lingkungannya yang disebut ekosistem. Istilah ekosistem berasal dari kata oikos yang berarti rumah sendiri dan sistema yang berarti terdiri atas bagian-bagian yang utuh atau saling mempengaruhi. Jadi, ekosistem dapat diartikan sebagai sistem yang dibentuk di suatu daerah dan terjadi hubungan timbal balik antara komponen hidup (biotik) dan komponen tak hidup (abiotik) atau dengan lingkungan.
SATUAN-SATUAN DALAM EKOSISTEM. Dari penjelasan sebelumnya, Anda telah mengerti bahwa secara umum ekosistem terdiri atas komponen mahluk hidup (biotik) dan komponen benda-benda tak hidup (abiotik). Satuan-satuan komponen biotik meliputi tumbuhan dan hewan, termasuk manusia, sedangkan satuan-satuan komponen abiotik meliputi sinar matahari, suhu, udara, iklim, air, tanah, batu, dan lain-lain.
Di dalam ekosistem, secara alami tidak pernah ditemukan adanya komponen biotik yang hidup sendiri. Adakah tumbuhan atau hewan yang mampu hidup sendiri? Jika ada sebutkan ekosistemnya! Pada contoh ekosistem di depan, ditemukan banyak tanaman kelapa dan tanaman padi di sawah yang merupakan kelompok tumbuhan hijau, sedangkan sepasang kupu-kupu, seekor burung kutilang dan seekor burung elang di kebun, serta banyak cacing tanah, tikus dan burung bangau di sawah merupakan kelompok hewan. Kelompok tumbuhan hijau merupakan organisme yang dapat membuat makanan sendiri, sedangkan kelompok hewan memperoleh makanan dari makhluk hidup lain. Berdasarkan cara memperoleh makanan, maka komponen biotik dapat dikelompokkan menjadi organisme autrotof dan heterotrof.
Organisme Autotrof. Organisme ini memperoleh makanan dengan cara mengubah bahan anorganik menjadi bahan organik menggunakan energi yang berasal dari sinar matahari. Berdasarkan sumber energi, organisme autotrof dibedakan menjadi dua.
  1. Organisme fotoautotrof, menggunakan sumber energi dari sinar matahari Contohnya alga, tumbuhan berklorofil seperti tanaman jeruk, padi, mangga, kelapa, dan sebagainya.
  2. Organisme kemoautotrof, menggunakan sumber energi yang berasal dari energi hasil reaksi kimia. Contohnya bakteri besi dan bakteri nitrit.
  3. Organisme Heterotrof
Organisme ini memperoleh makanan yang telah dibentuk oleh makhluk hidup lain. Contohnya kupu-kupu mengisap madu bunga, tikus makan padi, elang makan tikus, dan lain-lain.
INTERAKSI DALAM EKOSISTEM. Anda telah mengetahui bahwa di dalam ekosistem terjadi hubungan timbal balik dan saling ketergantungan antara komponen hidup (biotik) dan komponen tak hidup (abiotik) atau dengan lingkungan. Di dalam ekosistem tersebut dapat dijelaskan terjadi saling ketergantungan antara komponen biotik dengan komponen abiotik dan di antara komponen biotik sebagai berikut.
Interaksi antara Komponen Biotik dan Abiotik. Untuk memahami interaksi antara komponen biotik dan abiotik pelajari uraian berikut!
Gambar 10.3 SawahGambar 10.3 Sawah
Tanaman padi selain membutuhkan sinar matahari untuk proses fotosintesis sebagai penghasil sumber makanannya, juga membutuhkan udara sekitar untuk bernapas serta membutuhkan air dan tanah agar dapat tumbuh. Cacing tanah membutuhkan sisa-sisa bahan fragmen (remukan) tanaman padi sebagai makanannya dan membuat lubang tanah sebagai tempat tinggalnya. Setelah cacing tanah mati akan terurai menjadi bahan organik (zat hara) seperti karbon, nitrogen, oksigen, pospor, dan belerang di dalam tanah atau yang terdapat di atmosfer bagi kebutuhan tanaman padi untuk kelangsungan hidupnya. Dari contoh tersebut dapat Anda simpulkan bahwa di antara komponen-komponen abiotik seperti udara, tanah, air, dan cahaya serta komponenkomponen biotik, yaitu padi dan cacing terjadi interaksi atau hubungan sehingga terjadi saling ketergantungan.
Interaksi Antarkomponen Biotik. Interaksi antarkomponen biotik dapat terjadi antara individu dalam populasi maupun individu dalam komunitas.
Interaksi Antarindividu dalam Populasi
Coba Anda bayangkan sebuah daerah kebun kelapa seperti pada Gambar 10.2. Di tempat tersebut ternyata terdapat populasi tumbuhan dan hewan. Coba temukan adanya interaksi antara individu-individu itu! Setiap pohon kelapa merupakan individu dan kumpulan seluruh pohon kelapa sejenis yang tumbuh di kebun merupakan populasi. Di dalam populasi kelapa pada saat berbunga, ketika angin bertiup akan menyebabkan serbuk sari berterbangan dari pohon satu ke pohon lainnya sehingga terjadilah penyerbukan silang. Peristiwa terjadinya penyerbukan silang merupakan interaksi antarindividu di dalam populasi. Interaksi pada tumbuhan terlihat tidak begitu jelas, interaksi akan terlihat jelas pada hewan atau manusia.
Coba perhatikan di dalam kelas Anda! Setiap individu di kelas Anda merupakan kelompok sejenis sebagai anggota kelompok populasi siswa SMA kelas X. Pernahkah Anda berbuat sesuatu, memberi, atau menerima sesuatu dari teman Anda? Pernahkah ada persaingan yang terjadi antarteman Anda untuk berebut sesuatu? Bentuk memberi, menerima, ataupun persaingan antarteman merupakan interaksi antara individu satu dengan yang lain dalam populasi kelas X SMA. Coba Anda cari contoh interaksi yang terjadi di antara Anda atau salah satu teman Anda selama pelajaran ini berlangsung!
Interaksi Antarindividu dalam Komunitas
Interaksi antarindividu dalam komunitas dapat terjadi antarindividu sesama jenis dalam populasi seperti yang baru saja kita bicarakan maupun interaksi terjadi antarindividu berbeda jenis atau berbeda populasi. Ingat kembali, komunitas terdiri atas kumpulan species populasi dalam suatu habitat. Jika kita lihat di kebun kelapa juga terjadi interaksi antarindividu dalam komunitas seperti pada Gambar 10.2. Pada saat tanaman kelapa berbunga, datang sepasang kupu-kupu mengisap madu sebagai makanannya, di kebun itu juga ada seekor burung kutilang yang sedang membuat sarang di atas pohon, serta seekor burung elang bertengger di pelepah pohon kelapa sedang mengawasi tikus-tikus di sawah sebagai makanannya, karena burung elang sebagai predator juga dapat memakan burung kutilang ataupun kupu-kupu di kebun itu. Dengan demikian dapat dikatakan, setiap jenis makhluk hidup mempunyai fungsi masing-masing di dalam ekosistem, yaitu makhluk hidup sebagai produsen, konsumen, pengurai (perombak), dan detritivor.
1) Produsen
Di dalam ekosistem ada makhluk hidup yang dapat membuat/mencukupi kebutuhan dirinya sendiri yang disebut produsen primer (autotrof). Jenis makhluk hidup autotrof ada dua macam, yaitu makhluk hidup mensintesis makanannya dari molekul anorganik dengan bantuan energi sinar matahari yang disebut fototrofik. Contohnya, semua tumbuhan hijau, alga, dan bakteri belerang. Ada pada makhluk hidup yang mensintesis makanannya dari molekul anorganik dengan energi kimia yang disebut kemotrofik, contohnya bakteri pendaur nitrogen (Nitrosomonas). Produsen primer ekosistem darat terdapat pada golongan tumbuhan tingkat tinggi, yaitu dari golongan Angiospermae dan Gymnospermae yang membentuk hutan atau padang rumput, sedangkan pada ekosistem air terdapat golongan tumbuhan tingkat rendah, yaitu alga.
2) Konsumen
Konsumen di dalam ekosistem adalah semua makhluk hidup yang tidak dapat membuat makanannya sendiri yang disebut heterotrof, sehingga makhluk hidup tersebut hanya dapat menelan atau mencerna sebagian, bahkan keseluruhan makhluk hidup lain sebagai bahan makanan organik. Ada beberapa tingkatan untuk makhluk hidup heterotrof, yaitu sebagai berikut.
a) Konsumen tingkat pertama (primer). Organisme ini akan memakan organisme produsen (tumbuh-tumbuhan) sebagai makanannya yang disebut herbivora. Herbivora ekosistem darat meliputi Insekta, Aves, Reptil, dan Mamalia. Herbivora yang termasuk dalam golongan Mamalia meliputi Ungulata (hewan yang berkuku ganjil atau genap seperti sapi, kerbau, rusa, kuda dan lain-lain) dan Rodentia (hewan pengerat dan penggerek seperti ulat penggerek daun pisang, daun jati, dan lainlain).
Konsumen tingkat pertama (primer)
Sedangkan herbivora air meliputi udang-udangan kecil dan Moluska, hewan dari jenis ini ada yang pemakan fitoplankton, pemakan bubuk sampah dan penyaring renik air seperti hepepoda, remis, larva kepiting, dan kutu air.
Hewan-hewan itu bersama-sama dengan Protozoa merupakan komunitas terbesar zooplankton sebagai pemakan fitoplankton. Pada tingkatan ini ada tumbuhan yang hidup sebagai parasit seperti tali putri yang hidup menempel di tanaman perdu atau benalu yang hidup menumpang pada pohon inang.
b) Konsumen tingkat kedua disebut karnivora sekunder yang merupakan organisme pemakan produsen dan pemakan konsumen. Contohnya, kucing makan nasi kemudian makan tikus.
Konsumen tingkat kedua disebut karnivora sekunder c) Konsumen tingkat ketiga disebut karnivora atau sebagai predator karena organisme itu makan mangsanya dengan cara berburu, menangkap, membunuh, dan memakannya seperti harimau memburu dan menangkap rusa kemudian menerkam (membunuh) dan memakannya. Jika predator itu lebih kecil dari mangsanya disebut parasit, contohnya kutu yang menempel pada kerbau dan apabila sebagai pemakan hewan yang telah mati disebut pemakan bangkai. Contohnya, heina dan burung nazar yang memakan bangkai rusa.
Konsumen tingkat ketiga disebut karnivora atau sebagai predator3) Pengurai (Perombak) dan Detritivor
Jika suatu ketika Anda menemukan tumbuhan atau hewan yang telah mati dan keadaannya masih utuh (segar), apakah setelah selang beberapa hari atau beberapa minggu bahkan sampai beberapa tahun keadaannya masih utuh atau tinggal sebagian bahkan sudah hilang sama sekali? Tidak demikian bukan?
Setelah beberapa waktu, tumbuhan atau hewan yang mati akan hancur menjadi bagian-bagian yang lebih kecil dan akhirnya akan hilang. Hal itu dapat terjadi karena adanya kegiatan organisme pengurai (perombak). Organisme pengurai mengeluarkan enzim selulosa, tumbuhan, atau hewan menjadi lunak kemudian dirombak dan terurai menjadi bagian kecil-kecil lalu diserapnya. Terdapat sisa-sisa bahan fragmen (remukan atau hancuran kecil-kecil lembut) yang disebut detritus, kemudian ada organisme yang masuk menembus ke dalam tubuh tumbuhan atau hewan itu kemudian mencerna atau memakan detritus, organisme tersebut disebut detritivor. Jenis-jenis detritivor darat bertubuh besar seperti keluwing, kutu kayu, dan cacing tanah, sedangkan jenis detritivor renik seperti belatung, rayap dan nematoda. Jenis-jenis detritivor pantai seperti siput pantai, cacing pantai, dan tripang.