Saturday, December 31, 2016

Dituding Ngotot Jadi Ketua IKA UNM Makasar, Ini Jawaban Akbar Faizal

Polemik Ikatan Alumni (IKA) Universitas Negeri Makassar (UNM) masih berlanjut. Kubu Andi jamaro Dulung (AJD) yang baru saja dilantik sebagai ketua IKA UNM oleh Ketua Tim Formatur IKA UNM Muhammadr Basri, mendapat perlawanan dari Akbar Faizal.

Diketahui, Andi Jamaro Dulung dan Akbar Faizal kini sama-sama duduk sebagai anggota DPR RI, namun dari partai berbeda.

Akbar Faizal mengirim tulisan atau jawaban atas beredarnya tudingan dari Andi Jamaro Dulung di media massa jika dirinya disebut ngotot jadi ketua IKA UNM.

Berikut tulisan lengkap Akbar Faizal yang diterima pojoksulsel.com (tulisan diterbitkan secara lengkap, hanya merapikan beberapa singkatan dan akronim dari tulisan asli Akbar Faizal):

Sebenarnya saya masih liburan dengan keluarga dan malas menanggapi soal IKA UNM serta keinginan seseorang yang sangat besar untuk menjadi Ketua Umum IKA. Namun karen nama saya sudah disebutkan secara langsung dan terbuka oleh Saudara Andi Jamarro Dulung maka saya merasa perlu berbicara. Itu pun setelah saya berkali membaca kiriman koran dari staf saya di Makassar via WA.

Saya ingin memastikan apakah benar Saudara. Andi Jamarro Dulung mengatakan kalimat-kalimat dalam pemberitaan tersebut. Saya juga berusaha mengontak media yang memberitakannya. Saya simpulkan pemberitaan itu benar adanya. Dan inilah sikap saya: —
Pada awalnya saya berencana terlibat dalam Mubes UNM agar organisasi alumni yang ‘seharusnya’ beranggotakan ratusan ribu alumni UNM yang dulu bernama IKIP Ujung Pandang ini bisa berubah menjadi modern dan tidak lagi dikelola secara serampangan. Saya gunakan kata ‘seharusnya’ sebab sejak keberadaan Organisasi IKA UNM ini, sama sekali tak ada peran organisasi dalam mengayomi atau membantu anggotanya pada berbagai sektor. Bahkan pendataan pun sungguh amburadul.
Organisasi ini hanya nama dan dikelola secara serampangan. Saya pun adalah pengurus IKA periode lal, namun sepanjang masa kepengurusan itu sama sekali tak pernah diajak rapat apalagi dalam bentuk kegiatan.
Saya akhirnya memutuskan mundur selangkah dari rencana melibatkan diri (tapi saya masih menyumbang dana untuk panitia) karena pada rapat awal di kantor saudar Andi Jamarro Dulung di Jakarta, sudah terlihat skenario akan memuluskan langkah Saudara Andi Jamarro Dulung menjadi ketua IKA.
Saya tersenyum dalam hati. Batinku, orang-orang ini ternyata tak mau berubah dan akan tetap menjadikan organisasi IKA ini seperti sebelumnya.

Mubes berlangsung beberapa bulan kemudian di Makasar dan bermasalah. Panitia bentukan Saudara Andi Jamarro Dulung melakukan kesalahan besar dengan menganggap alumni –terutama yang bermukim di Makassar dan sekitarnya– masih bisa dibodohi dengan berbagai skenario seperti suara perwakilan lebih banyak dari Jakarta dibanding dari Makassar. 
Padahal jumlah alumni di Makasar ratusan kali lebih besar dibanding yang berdomisili di Jakarta.
Saya maklum skenario ini sebab beberapa alumni yang bermukim di Jakarta dan menjadi panitia inti Mubes yang bermasalah itu adalah pendukung utama Sdr. Andi Jamarro Dulung. Juga skenario menghalangi peserta Mubes untuk masuk ke ruang sidang dengan alasan ‘bukan perwakilan resmi pemilik suara’.
Inilah alasan dari skenario mereka ingin menguasai suara perwakilan dengan memperbanyak wakil dari daerah yang Jakarta yang justru jumlah alumninya lebih sedikit.
Maka terjadilah insiden keributan yang semakin diperparah oleh panitia dengan memanggil polisi menjaga pintu ruang sidang. Dan masih banyak keanehan lainnya yang membuat mayoritas alumni peserta Mubes memberontak.
Bahkan Ketua Sidang pada saat itu, Sdr. M Yasin AR keluar ruang sidang dan berkali-kali meneriakkan “Tidak ada keputusan sidang”. Adegan panas ini bisa disaksikan di Youtube.

Soal sumbangan alumni untuk pelaksanaan Mubes ini juga menjadi sumber masalah tersendiri. Juga soal sumbangan salah satu alumni dalam bentuk dolar Singapura ‘menyusut’ nilainya saat ditukar ke mata uang rupiah karena angka NOL-nya dikurangi oleh si penerima langsung sumbangan tadi. Soal ini menjadi perdebatan panas sekaligus super lucu di group alumni dan tak pernah mendapat jawaban.

Dan tibalah Sdr. Andi Jamarro Dulung dan kelompoknya pada kesalahan terbesar dengan memaksakan diri menjadi Ketua Umum IKA yang disebutnya berdasarkan keputusan Tim Formatur.

Namun keputusan berani mereka ini lumpuh saat Sdr. Zakaria Leo, salah seorg Tim Formatur mengumumkan secara terbuka bahwa itu bukan keputusan formatur sebab dia sama sekali tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan yg dijadikan dasar oleh Sdr. Andi Jamarro Dulung mengklaim diri sebagai Ketua Umum IKA UNM.

Maka lahirlah Tim 17 yang dimotori DR Karta Jayadi, Chaeruddin Hakim dll. Tujuannya, merancang Mubeslub yang lebih demokratis dan bisa membawa UNM menjadi lebih berkarakter, maju dan memperjuangkan kepentingan anggota. Perubahan AD/ART menjadi pekerjaan utama Tim 17 ini yang salah satunya memperbaiki sistem pengelolaan organisasi menjadi lebih baik.
Juga soal tata cara pemilihan Ketua Umum IKA menggunakan modern yang lebih terukur yakni One Man One Vote. Ini untuk memgakhiri tata cara pemilihan zaman purba, pola yang sempurna untuk sebuah kecurangan.
Rektor UNM, Prof DR Husain Syam, berusaha menengahi dengan mempertemukan Kubu Andi Jamarro dan Tim 17. Saya juga hadir dalam pertemuan itu, namun memilih untuk lebih banyak diam. Tak ada kesepakatan sebab Andi Jamarro Dulung memaksa utk mendapatkan legitimasi.
Andi Jamarro bahkan sempat memukul meja saat berdebat dengan Tim 17, sebuah tindakan yang tidak perlu untuk kapasitas Sdr. Andi Jamarro. Terlontar ancaman akan menggugat ke pengadilan jika ada yang menghalanginya menjadi Ketua Umum IKA UNM.

Pada saat yang sama, kami juga mendengar permintaan memelas bhw,”Berikan saya kesempatan menjadi Ketua IKA selama 2 tahun yang salah satu tugasnya utk menyiapkan Mubeslub”. Koq ada model seperti ini? Jangankan dua tahun, dua menit saja mereka mendapatkan persetujuan waktu maka itu sama dengan peserta mengakui Mubes yang bermasalah ini.

Yang saya tak pernah bayangkan adalah Sdr. Andi Jamarro Dulung bertindak lebih jauh dengan tidak mengakui posisi hukum Rektor UNM dalam hubungan organisasional UNM dengan IKA. Berbagai pernyataan ke publik menyebutkan Rektor tak punya kewenangan apapun yang berkaitan dengan IKA.

Bahkan dia sebutkan bahwa UNM dan IKA tak ada hubungan. Saya harus garuk-garuk kepala. Lantas kata ‘UNM dibelakang huruf ‘IKA’ pada “IKA UNM” itu apa maksudnya. Lantas dana sumbangan alumni pada setiap wisuda yang menjadi dana operasional IKA UNM –dan hingga sekarang tak jelas pertanggungjawabannya oleh pengurus lama itu– harus diartikan apa? Tampaknya proses gagal paham terus berlanjut.

Masalah berlanjut dengan tudingan Andi Jamarro Dulung bahwa Tim 17 adalah boneka Rektor. Sdr Andi Jamarro Dulung secara terbuka mengancam dan menekan Rektor UNM pada banyak bagian.

Andi Jamarro lupa bahwa beberapa waktu sebelumnya mengirim surat ke rektor UNM yang isinya meminta pengakuan dari rektor plus fasilitas. Dalam surat yang bernada ancaman itu, Andi Jamarro Dulung juga meminta Rektor UNM bersedia memberikan pidato pada rencana pelantikan pengurus IKA versi dirinya itu yang disebutkan akan dilantik oleh Menteri Riset Dikti. Luar biasa banget hehhee.. Sejak kapan level menteri mengurusi hal seperti ini

Tim 17 yg notabene adalah junior beliau ternyata lebih paham cara berorganisasi yg benar dan menolak dianggap bodoh. Sdr. Andi Jamarro tak punya bukti dan alasan menuding saya berada dibalik layar semua ini. Bahwa saya juga menolak cara-cara pelaksanaan Mubes versi dirinya itu, saya jawab dengan tegas “YA”.

Saya tak mau membuang energi utk meladeni ajakan berpolemik soal ini. Inilah alasan saya menulis panjang lebar seperti ini. Tudingan bahwa saya ngotot menjadi Ketua Umum IKA tetapi tak mendaftar sebagai calon pada Mubes bermasalah itu, juga adalah tudingan yang lucu, namun menyedihkan.

Siapa yang ngotot menjadi Ketua Umum IKA?? Dalam kenyataannya dan publik tahu bahwa Sdr. Andi Jamarro Dulung yang memaksakan diri menjadi Ketua Umum meski mendapat penolakan dimana-mana. Bahkan Rektor UNM pun tak mengakui dirinya.

Saya ingin menutup catatan saya ini dengan mengajak Sdr. Andi Jamarro Dulung untuk menghilangkan ego dan kembali berpikir jernih demi IKA UNM yang lebih baik. Ada banyak tantangan kedepan semisal posisi hukum guru-guru yg makin rentan. 
Beberapa kasus seperti di Bantaeng, Selayar, Sinjai dan di SMK Makasar (Guru Dasrul) yang dianiaya oleh siswa dan orangtuanya membutuhkan perhatian yang sangat mendesak. 
Pada semua kasus itu saya turun tangan langsung semata sebagai rasa tanggungjawab sebagai wakil rakyat dan tentu saja sebagai alumni IKIP/UNM.

Tim 17 telah merancang tata cara pemilihan Ketua IKA yang lebih terukur dan dipakai oleh banyak IKA universitas lainnya, seperti ITB, UGM atau UI berupa One Man One Vote. Cara ini selain lebih demokratis dan terukur, juga memberikan kesempatan alumni lainnya ‘memiliki’ IKA UNM secara psikologis sekaligus memberikan rasa tanggungjawab kepada mereka untuk pengabdian terbaik bagi IKA dan bekas kampus yang teleh menjadikan merek seseorang.

Di lain pihak, pengurus yang terpilih mendapat mandat yang terukur pula menjalankan roda organisasi menjadi jauh lebih baik.

Untuk itu, saya mengajak Sdr. Andi Jamarro Dulung bertarung pada pemilihan Ketua IKA dengan sistem One Man One Vote ini. Tak ada jaminan saya memenangkan pertarungan dengan sistem ini. Demikian pula sebaliknya. Siapapun yang terpilih akan kita dukung sepenuhnya.

Jangan memaksakan diri dan memaksa orang lain untuk menerima hasil dari sebuah proses yang salah. Saya sudah ungkapkan ajakan ini (saya tak gunakan kata ‘tantangan’ sebagai bentuk rasa hormat saya kepada senior meskipun pangkat kami sama kini) pada pertemuan yang dimediasi oleh Rektor tempo hari itu. 
Namun dijawab dengan kengototan seperti ini. Publik perlu tahu siapa yang ngotot kini.

“KITA INI PARA PETARUNG DAN MARI KITA UJI PADA SISTEM YANG TERUKUR DAN BERMARTABAT”

Wassalam,

SUMBER BACAAN : http://sulsel.pojoksatu.id/read/2016/12/31/dituding-ngotot-jadi-ketua-ika-ini-jawaban-akbar-faizal/3/

Entri yang Diunggulkan

Alhamdulilah, Istri Bupati Barru Sembuh dari Korona

Pasca menjalani isolasi mandiri selama 14 hari karena terkonfirmasi covid. Hj Hasnah Syam, Istri bupati Barru dinyatakan sembuh dari virus ...