Rabu, 30 Januari 2013

CONTOH LAPORAN HERBARIUM


 LAPORAN HERBARIUM

BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
Luca Ghini (1490, Casalfiumanese - 4 Mei 1556) adalah seorang dokter dan ahli botani Italia, terkenal sebagai pencipta herbarium pertama yang tercatat, serta kebun raya pertama di Eropa. Dalam botani, herbarium (jamak: herbarium) - kadang-kadang dikenal dengan istilah herbar keinggeris-inggerisan - adalah kumpulan spesimen tumbuhan diawetkan. Spesimen ini mungkin seluruh tanaman atau bagian tanaman: ini biasanya akan berada dalam bentuk kering, dipasang pada lembar, tapi tergantung pada material juga dapat disimpan dalam alkohol atau pengawet lainnya. Istilah yang sama sering digunakan dalam ilmu jamur untuk menggambarkan koleksi setara dengan jamur diawetkan. Istilah ini juga dapat merujuk kepada bangunan dimana spesimen disimpan, atau lembaga ilmiah yang tidak hanya menyimpan tetapi penelitian ini spesimen. Spesimen di herbarium yang sering digunakan sebagai bahan referensi dalam menggambarkan taksa tanaman, beberapa spesimen mungkin jenis
Ghini lahir di Casalfiumanese, putra notaris, dan belajar kedokteran di University of Bologna. Pada 1527 ia berceramah di sana pada tanaman obat, dan akhirnya menjadi profesor. Dia pindah ke Pisa pada 1544, tetap menjaga rumahnya di Bologna. Dia menciptakan herbarium pertama (Hortus siccus) pada tahun itu, pengeringan tanaman sambil menekan mereka antara potongan kertas, kemudian menempelkan ke karton. 1544 juga melihat pembentukan taman untuk tanaman hidup, yang kemudian dikenal sebagai Orto Botanico di Pisa. The Orto Botanico di Pisa, juga dikenal sebagai Orto Botanico dell'Università di Pisa, adalah sebuah taman botani yang dioperasikan oleh University of Pisa, dan terletak di melalui Luca, Ghini 5 Pisa, Italia. Ini adalah pagi hari kerja terbuka tanpa biaya.
Herbarium berasal dari kata “hortus dan botanicus”, artinya kebun botani yang dikeringkan. Secara sederhana yang dimaksud herbarium adalah koleksi spesimen yang telah dikeringkan, biasanya disusun berdasarkan sistim klasifikasi.

B.     Tujuan
1.      Untuk pendidikan
2.      Untuk pencarian atau pelestarian keanekaragaman hayati
3.      Untuk hobi atau kesenian

C.     Manfaat
1.      Sebagai media pembelajaran kepada siswa untuk menunjukkan macam-macam tanaman beserta keterangannya
2.      Sebagagi koleksi kenekaragaman hayati
3.      Sebagai pajangan atau seni
4.      Sebagai pusat referensi; merupakan sumber utama untuk identifikasi tumbuhan bagi para ahli taksonomi, ekologi, petugas yang menangani jenis tumbuhan langka, pecinta alam, para petugas yang bergerak dalam konservasi alam.
5.      Sebagai lembaga dokumentasi merupakan koleksi yang mempunyai nilai sejarah, seperti tipe dari taksa baru, contoh penemuan baru, tumbuhan yang mempunyai nilai ekonomi dan lain- lain.
6.      Sebagai pusat penyimpanan data, ahli kimia memanfaatkannya untuk mempelajari alkaloid, ahli farmasi menggunakan untuk mencari bahan ramuan untuk obat kanker, dan sebagainya (Arudewangga, 2010).

D.     Tahapan Pelaksanaan
1.      Alat dan Bahan
Beberapa perlengkapan yang diperlukan untuk mengkoleksi tumbuhan di lapangan antara lain:
a.       Gunting Tanaman
b.      Sasak Tanaman
c.       Buku Catatan
d.      Label
e.       Pensil
f.        Koran Bekas
g.       Plastik Penutup
h.       Tali Pengikat
i.         Sterofom
j.        Doubletip
k.      Alkohol
l.         Kamera
2.       Apa yang dikoleksi:
a.       Tumbuhan kecil harus dikoleksi seluruh organnya.
b.      Tumbuhan besar atau pohon, dikoleksi sebagian cabangnya dengan panjang 30-40 cm sedangkan yang mempunyai organ lengkap: daun (minimal punya 3 daun untuk melihat phylotaksis), bunga dan buah, diambil dari satu tumbuhan.
c.       Untuk pohon yang sangat tinggi, pengambilan organ generatifnya bisa dilakukan dengan galah, ketapel atau menggunakan hewan, misalnya beruk.
d.       Untuk pohon atau perdu kadang-kadang penting untuk mengkoleksi kuncup (daun baru) karena kadang-kadang stipulanya mudah gugur dan brakhtea sering ditemukan hanya pada bagian-bagian yang muda.
e.       Tumbuhan herba dikoleksi seluruh organnya kecuali untuk herba besar.
f.        Koleksi tumbuhan hidup, dianjurkan untuk ditanam di kebun botani dan rumah kaca.
3.      Catatan lapangan
a.       Catatan lapangan segera dibuat setelah mengkoleksi tumbuhan, berisi keterangan-keterangan tentang ciri-ciri tumbuhan tersebut yang tidak terlihat setelah spesimen kering.
b.      Beberapa keterangan yang harus dicantumkan antara lain: lokasi, habitat, warna (bunga, buah), bau, eksudat, pollinator (kalau ada), pemanfaatan secara lokal, nama daerah dan sebagainya.
4.       Pengeringan spesies
a.       Setelah dilabel (etiket gantung) koleksi dimasukkan ke dalam lipatan kertas koran.
b.      Dipulas menggunakan alkohol 70% hingga basah lalu dikeringkan.
c.       Pengeringan dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu: panas matahari, menggunakan kayu bakar, arang dan dengan listrik.
5.      Proses pengeringan:
a.       5-10 spesies diapit dengan penekan atau sasak ukuran 45 x 35 cm. Untuk specimen yang banyak, bisa digunakan karton atau aluminium berombak/beralur untuk mengapit specimen sehingga tidak perlu mengganti-ganti kertas koran, diletakkan vertikal
b.      Buah-buah besar dipisah, dimasukkan ke dalam kantong, beri label dan keringkan terpisah.
c.       Tumbuhan yang sangat lunak dimasukkan ke dalam air mendidih beberapa menit untuk membunuh jaringan dan mempercepat pengeringan.
d.      Dibalik-balik secara teratur, kertas diganti beberapa kali terutama hari pertama, kalau specimen sudah kaku lebih ditekan lagi 1,5-2 hari specimen akan kering
6.      Pembuatan herbarium
a.     Mounting
1)      Spesimen yang sudah kering dijahit atau dilem di atas kertas karton gunakan kertas yang kuat atau tidak cepat rusak dan kaku, ukuran 29 x 43 cm
2)      Untuk tumbuhan palmae atau tumbuhan lain yang organnya besar, 1 spesimen dimounting pada beberapa lembar kertas.

b.      Labeling
1)      Label yang berisi keterangan-keterangan tentang tumbuhan tersebut diletakkan di sudut kiri bawah atau sudut kanan bawah
2)      Spesimen dipisahkan sesuai dengan kelompoknya kemudian diidentifikasi dan dianjurkan membuat lembar label kosong untuk kemungkinan perubahan nama.
c.       Pengasapan dan peracunan (fumigasi)
1)      Sebelum memasukkan spesimen ke herbarium terlebih dahulu harus diasap dengan karbon bisulfida dalam ruangan tertentu.
2)      Metode lain dapat dilakukan dengan menambahkan kristal paradiklorobenzen. Umumnya herbarium-herbarium melakukan fumigasi dengan interval 1, 2, 3 tahun.
3)      Umumnya spesimen disusun ke dalam kotak atau lemari khusus berdasarkan alphabet.
7.      Pembuatan Herbarium Basah
a.       Tanaman yang akan dibuat herbarium dicuci bersih kemudian dikeringanginkan
b.      Tanaman disemprot dengan alcohol secara bertingkat dari alkohol konsentrasi 99,9%, 90%, 80%, kemudian terakhir direndam dengan alkohol 70%.


ISI

A.     Physalis angulata (Ciplukan)
1.      Nama Ilmiah : Physalis angulata
Nama Lokal : Ciplukan
2.      Gambar






3.      Kunci Determinasi
1b, 2b, 3b, 4b, 6b, 7b, 9b, 11b, 12b, 13b, 14a, 15a, 109b, 119b, 120b, 128b, 129b, 135b, 136b, 139b, 140b, 142b, 143b, 146a, 147b, 150b, 151b, 152b, 153a.........................................................Family 111. Solanaceae
1b, 3b, 5a .....………………………………….Genus 3. Physalis
Spesies Physalis angulata

4.      Klasifikasi
Kingdom          : Plantae
Divisi                : Spermatophyta
Sub divisi          : Angiospermae
Kelas               : Dicotyledonnae
Ordo                : Solanales
Famili               : Solanaceae
Marga              : Physalis
Spesies             : Physalis angulata

5.      Deskripsi
            Physalis angulata adalah tumbuhan herba anual (tahunan) dengan tinggi 0,1-1 m. Batang pokoknya tidak jelas, percabangan menggarpu, bersegi tajam, berusuk, berongga, bagian yang hijau berambut pendek atau boleh dikatakan gundul. Daunnya tunggal, bertangkai, bagian bawah tersebar, di atas berpasangan, helaian berbentuk bulat telur-bulat memanjang-lanset dengan ujung runcing, ujung tidak sama (runcing-tumpul-membulat-meruncing), bertepi rata atau bergelombang-bergigi, 5-15 x 2,5-10,5 cm. Bunga tunggal, di ujung atau ketiak daun, simetri banyak, tangkai bunga tegak dengan ujung yang mengangguk, langsing, lembayung, 8-23 mm, kemudian tumbuh sampai 3 cm. Kelopak berbentuk genta, 5 cuping runcing, berbagi, hijau dengan rusuk yang lembayung. Mahkota berbentuk lonceng lebar, tinggi 6-10 mm, kuning terang dengan noda-noda coklat atau kuning coklat, di bawah tiap noda terdapat kelompokan rambut-rambut pendek yang berbentuk V. Tangkai benang sarinya kuning pucat, kepala sari seluruhnya berwarna biru muda. Putik gundul, kepala putik berbentuk tombol, bakal buah 2 daun buah, banyak bakal biji. Buah ciplukan berbentuk telur, panjangnya sampai 14 mm, hijau sampai kuning jika masak, berurat lembayung, memiliki kelopak buah.
            Ciplukan adalah tumbuhan asli Amerika yang kini telah tersebar secara luas di daerah tropis di dunia. Di Jawa tumbuh secara liar di kebun, tegalan, tepi jalan, kebun, semak, hutan ringan, tepi hutan. Ciplukan biasa tumbuh di daerah dengan ketinggian antara 1-1550 m dpl.
            Akar tumbuhan ciplukan pada umumnya digunakan sebagai obat cacing dan penurun demam. Daunnya digunakan untuk penyembuhan patah tulang, busung air, bisul, borok, penguat jantung, keseleo, nyeri perut, dan kencing nanah. Buah ciplukan sendiri sering dimakan; untuk mengobati epilepsi, tidak dapat kencing, dan penyakit kuning.

B.     Pepaya (Carica papaya)
1.      Nama lokal                   : Pepaya
Nama ilmiah     : Carica papaya
2.      Gambar








3.      Kunci Determinasi :
1b, 2b, 3b, 4b, 6b, 7b, 9b, 10b, 11b, 12b, 13b, 14a, 15a, 109b, 119b, 120a, 121b, 124b, 125a, 126a… Familia. Caricaceae

4.      Klasifikasi
Kingdom          : Plantae
Divisi                : Spermatophyta
Subdivisi           : Angiospermae
Kelas               : Dicotyledonae
Subkelas          : Dialypetalae
Ordo                : Parietales
Famili               : Caricaceae
Genus               : Carica
Species            : Carica papaya

5.      Deskripsi
Pepaya mempunyai habitus berupa herba berkayu atau semak berbentuk pohon dengan batang yang lurus, dengan tipe batang yang herbaceus. Bentuk batang tanaman Pepaya bulat berongga serta bergetah dan terdapat bekas tangkai daun yang telah lepas pada permukaan kulit batangnya. Arah tumbuh batang tegak lurus dengan percabangan yang monopodial.  Daun berjejal pada ujung batang batang, memilki tangkai daun yang panjang dengan bangun/helaian daun yang bulat. Ujung daunnya runcing sementara pangkal daunnya bulat, dengan tipe daun yang bercangap menyirip.
Pepaya merupakan tumbuhan poligami (polygamus) karena pada tumbuhan ini terdapat bunga jantan, bunga betina dan bunga banci secara bersama-sama. Tajuk bunga pada bunga jantan berbentuk terompet dan berwarna putih kekuningan. Tenda bunganya keras dan berjumlah lima buah dan dilengkapi dengan kelopak yang terletak pada lingkaran luar yang berwarna hijau, lebih kecil dan lebih kasar daripada hiasan bunga yang terdapat disebelah dalam. Bunga betina kebanyakan berdiri sendiri dengan daun mahkota yang lepas atau hampir lepas serta berwarna putih kekuningan. Bakal buahnya beruang satu.
Buah Pepaya berbentuk bulat telur memanjang, berdaging dan berisi cairan. Bijinya banyak dan dibungkus oleh selaput yang berisi cairan dan di dalamnya berduri tempel berjerawat. Daunnya yang muda dan terutama buah yang mentah berisi suatu enzim yang dinamakan papaine, yang mempunyai sifat melarutkan putih telur (menghancurkan).
Aspek botani Pepaya yaitu buah yang sudah masak dapat dimakan, rasanya manis bahkan ada pula yang terasa kurang manis/tawar, sementara buah yang masih muda, bunga, maupun daunnya dapat dijadikan sebagai sayuran.
Pepaya yang digunakan sebagai herbarium oleh praktikan adalah Pepaya yang masih muda dan belum berbuah, dengan tinggi 45cm, batang berongga berwarna hijau muda, daunnya berwarna hijau tua. Spesies ini diperoleh di Desa Mendungan, Kelurahan Pabelan, Kecamatan Kartosuro, Sukoharjo pada tanggal 21 Mei 2011.

C.     Solanum melongena (Terong Ungu)
1.      Nama Lokal     : Terong Ungu
Nama Ilmiah     : Solanum melongena
2.      Gambar
Kolektor: Leni Duwi Asih (A420 080 035)

3  Kunci determinasi
 1b-2b-3b-4b-6b-7b-9a-41b-42b-43b-54a-55b-57b-58a .fam. 111. Solanaceae
1b-3b-5b-6a genus. 6. Solanum
3a spesies  Solanum melongena

4.      Klasifikasi
Kingdom          : Plantae
Divisio              : Magnoliophyta
Classis              : Magnoliopsida
Sub classis        : Asteridae
Ordo                : Solanales
Familia              : Solanaceae
Genus               : Solanum
Species             : Solanum melongena

5.      Deskripsi
Terong merupakan tanaman perdu yang berhabitus annual, sistem perakarannya adalah akar tunggang. Terong memiliki percabangan yang simpodial pada saat dewasa dan monopodial pada saat muda. Arah tumbuh batangnya tegak lurus dengan batang yang bulat dan permukaan yang kasar. Tata letak daunnya adalah berseling dan bagian-bagian daunnya tidak lengkap. Bentuk daun dari terong adalah membulat dengan pangkal dan ujung daun adalah berlekuk dan meruncing serta tepi daunnya memiliki torehan-torehan. Bunga dari terong adalah bersifat tunggal dengan buahnya yang sejati.
Gambar Terong





D. Euphorbia milii (Euphorbia)
1. Nama Lokal     : Euphorbia
Nama Ilmiah  : Euphorbia milii
Kolektor : Hsaid Benmar

2.      Gambar




 

3.  Kunci determinasi
1b, 2b, 3b, 6b, 7b, 9b, 10b, 11b, 12b, 13b, 14b, 16a, 239a, 240b, 241a……………………………… Fam 67. Euphorbiaceae
1a, 2a Genus 1. Euphorbia
 Spesies Euphorbia milii
4. Klasifikasi
Kingdom          : Plantae
Divisi                : Spermatophyta
Subdivisi           : Angiospermae
Classis              : Dicotyledoneae
Subclassis         : Apetalae
Ordo                : Euphorbiales
Family              : Euphorbiaceae
Genus               : Euphorbia
Spesies : Euphorbia milii

5.      Deskripsi
Euphorbia milii termasuk dala tumbuhan dicotyledoneae yang berarti berkepaing dua. Termasuk tumbuhan terna dimana ketika masih muda batang berupa herba ketika sudah tua batnagnya berkayu. Akar tunggang, daun tunggal dan duduknya berhadapan sampai tersebar. Bunga berwarna kuning kehijauan. Batang bergetah berwarna putih. Bunga berkelamin dua. Bunga jantan dengan benang sari sama jumlahnyadengan daun-daun hiasan bunga. Bunga betina dengan putik yang terdiri atas 3 daun buah dengan 3 tangkai putik yang bebas berlekatan, bakal buah menumpang, beruang tiga, tiap ruang dengan 1 bakal biji. Buah biasanya buah kendaga. Biji dengan endosperm yang besar, lembaga letaknya sentral.

E. Mirabilis jalapa (Bunga pukul empat)
1. Nama lokal       : Bunga Pukul Empat
Nama ilmiah     : Mirabilis jalapa
2. Gambar


Pengambil data : Hsaid Benmar
Tempat, tanggal   : Bujung Mattimboe, 28 Januari 2013
Habitat    :  Di Pinggir Sungai
a. Sebelum dikeringkan

3. Kunci Determinasi
1b, 2b, 3b, 6b, 7b, 9b, 10b, 11b, 12b, 13b, 14a, 15a, 109b, 119b, 120b, 128b, 129b, 135b, 136b, 139b, 140b, 142b, 143b, 147a, 150b, 151b, 152a,……………………………………………...…Famili Nyctaginaceae
1b, 2a,…………………………………./………………..Genus Mirabilis
1a,………………………………………………Spesies Mirabilis jalapa
                            
4.      Klasifikasi
Kingdom          : Plantae
Divisi                : Spermatophyta
Sub divisi          : Angiospermae
Kelas               : Dicotyledonae
Ordo                : Caryophyllales
Famili               : Nyctaginaceae
Genus               : Mirabilis
Spesies : Mirabilis jalapa

5.      Deskripsi
Mirabilis jalapa (bunga pukul empat) merupakan tumbuhan yang berupa semak, semusim, tinggi 50-80 cm. Batangnya tegak, bulat, permukan licin, pada buku tumbuh daun dan cabang, putih. Akarnya tunggang dan putih. Daun termasuk daun tunggal, segi tiga, panjang 5-8 cm lebar 5-10 cm, ujung meruncing, pangkal tumpul, tepi rata, pertulangan menyirip, hijau keputih-putihan. Bunga tungal, bentuk terompet, di ujung batang, benang sari enam, pipih, merah, tangkai sari melengkung ke dalam, panjang ± 3 cm, mahkota 5 cm, diameter 1-1,5 crn, daun pelindung bagian bawah menjadi satu, segi tiga, ujung bertaju lima, kuning. Buahnya kecil, keras, permukaan berkerut, diameter ±5 mm,bagian dalam putih dan lunak, hitam, berbentuk telur, dapat di buat bedak.kulit umbinya berwarna coklat kehitaman, bentuk bulat memanjang, panjang 7 cm-9 cm dengan diameter 2 cm- 5 cm, isi umbi berwarana putih.

 Mirabilis jalapa

BAB III
PENUTUP

A.     KESIMPULAN

1.       Herbarium adalah koleksi spesimen yang telah dikeringkan, biasanya disusun berdasarkan sistem
          klasifikasi
2.       Pengawetan tanaman dapat dilakukan secara basah maupun kering
3.       Pada laporan ini, tanaman yang diawetkan antara lain
a.       Physalis angulata (Ciplukan)
b.       Pepaya (Carica papaya)
c.       Solanum melongena (Terong Ungu)
d.       Euphorbia milii (Euphorbia)
e.       Mirabilis jalapa (Bunga Pukul Empat)

B.     SARAN
1.      Dalam pembuatan herbarium basah, hendaknya diperhatikan kemampuan masing-masing bagian tanaman untuk direndam dalam alkohol apakah zat warna di dalamnya mudah larut atau tidak
2.      Dalam pembuatan herbarium basah, hendaknya menggunakan larutan formalin daripada alkohol, karena formalin lebih bisa mengawetkan dan mengeraskan jaringan ynag berada pada tumbuhan daripada alkohol yang lebih mudah melarutkan zat warna tanaman.
3.      Dalam pembuatan herbarium kering, sebaiknya tidak dikeringkan terpapar langsung di bawah sinar matahari, sebaiknya ditutup atasnya menggunakan kertas karena struktur yang dihasilkan akan lebih bagus dan wanranya tidak terlalu “gosong”