Sabtu, 02 Februari 2013

Syahrini dan mobil mewah Rp 2,5 miliar





Syahrini dan mobil mewah Rp 2,5 miliar 

Artis yang dikibarkan oleh Anang Hermansyah, Syahrini, kini bisa memenuhi semua keinginannya. Jalan-jalan ke Eropa, beli tas bermerek, didapat semudah membalikkan telapak tangan.

September lalu, dunia selebritas dikejutkan dengan foto Syahrini dengan mobil McLaren seharga miliaran. Di foto yang beredar di dunia maya itu, Syahrini terlihat bergaya di samping mobil McLaren MP4-12C yang berwarna jingga. Salah satu pintu mobil dua kursi itu terlihat terangkat dan Syahrini mejeng dengan memegang kaca mata hitam.

Mobil buatan Inggris ini adalah penerus kejayaan McLaren F1. Mobil yang mejeng bersama Syahrini itu termasuk dalam kategori supercar tercepat di dunia.

Dengan mesin yang berdaya dorong tinggi, mobil itu bisa menghasilkan 592 tenaga kuda yang dapat dipacu dengan kecepatan maksimal 330 kilometer per jam. Bahkan, mobil itu bisa melesat dari kecepatan nol hingga 100 kilometer per jam dalam waktu 3,3 detik saja.

Namun, benarkah mobil super mewah tersebut milik Syahrini?

Entah mengelak atau memang benar, Syahrini mengaku mobil itu adalah milik temannya.

Ruang Lingkup Bakteri

Ruang Lingkup Bakteri- Perhatikan Gambar 4.1 berikut! Kita harus bersyukur kepada Tuhan manusia diberi pengetahuan mengenai antraks, meski pengetahuan ini masih terbatas. Pengetahuan tentang antraks tidak terlepas dari jasa peneliti di masa lalu yaitu berkat kerja keras seorang bakteriologi dari Jerman bernama Robert Koch (1843 – 1910).
Gambar 4.1 Bakteri antraks
Gambar 4.1 Bakteri antraks
Bakteri merupakan kelompok makhluk hidup yang berukuran sangat kecil, yaitu bersel tunggal sehingga untuk melihatnya harus menggunakan bantuan mikroskop. Bakteri termasuk golongan mikroba (jasad renik). Penyebaran kehidupan bakteri di alam sangat luas yang dapat ditemukan di dalam tanah, air, udara, bahkan dapat dijumpai pada organisme, baik yang masih hidup maupun yang telah mati. Antonie Van Leuwenhook (1632 –1723) adalah seorang berkebangsaan Belanda, yang pertama kali berhasil melihat makhluk-makhluk kecil yang dinamakan animalkulus yang saat ini dikenal sebagai bakteri. Istilah bakteri berasal dari kata bakterion yang artinya batang kecil. Karena jasa beliau, maka sekarang ini kita dapat mempelajari lebih mendalam tentang bakteri.
Bentuk dan Ukuran Bakteri
Perhatikan bentuk-bentuk bakteri pada Gambar 4.3 berikut!
Gambar 4.3 Berbagai ragam bentuk bakteri a. basilus b. coccus c. spiral
Gambar 4.3 Berbagai ragam bentuk bakteri a. basilus b. coccus c. spiral
Bakteri merupakan makhluk yang mempunyai sel prokariot, yaitu selnya belum mempunyai membran inti. Dia bersel tunggal dan umumnya tidak mempunyai klorofil sehingga bersifat heterotrof, ada yang bersifat saprofit atau parasit, yaitu tidak bisa membuat makanan sendiri. Ada pula bakteri yang bersifat autotrof karena memiliki klorofil sehingga dapat membuat makanan sendiri, misalnya bakteri hijau dan bakteri ungu. Untuk mendapatkan energi, bakteri harus melakukan respirasi (pernapasan). Ada bakteri yang membutuhkan oksigen bebas di udara, sering disebut bakteri aerobik, misalnya Nitrosomonas yang mampu memecahkan gula menjadi air, CO2, dan energi. Adapun bakteri yang tidak memerlukan oksigen bebas, misalnya bakteri asam susu.
Jika Anda amati Gambar 4.3, bahwa bentuk bakteri beraneka ragam, ada yang berbentuk bola atau peluru (kokus), seperti batang (bacillus), bengkok seperti koma/sekrup (vibrio), dan spiral (heliks). Sel-sel tersebut biasanya berkoloni/berkelompok dan mengalami perubahan bentuk, contohnya:
a. diplokokus, yaitu bakteri kokus berkelompok dua-dua;
b. streptokokus, selnya berbaris berantai;
c. stapilokokus, berkelompok seperti anggur;
d. sarcina, berbentuk bulat seperti kubus berkelompok delapan.
Adapun contoh bakteri yang berbentuk batang adalah:
a. diplobasil, berbentuk batang bergandengan dua-dua,
b. streptobasil, membentuk rantai memanjang.
Bentuk bakteri sering digunakan sebagai salah satu dasar untuk identifikasi bakteri. Karena ukuran bakteri sangat kecil, yaitu hanya beberapa mikron (μ) yang setara dengan 0,001 mm dari yang terkecil kira-kira 1/10 μ – 100 μ maka untuk melihatnya harus menggunakan alat bantu mikroskop.
Struktur Sel Bakteri. Setelah mengetahui bentuk-bentuk bakteri, apakah Anda sudah mengetahui pula bentuk sel sebenarnya dari bakteri? Untuk mengetahuinya diperlukan mikroskop elektron, perhatikan Gambar 4.4 berikut! Dengan melihat Gambar 4.4 tersebut, dapat diamati bahwa stuktur sel bakteri masih sangat sederhana yang tersusun atas dinding sel dan isi sel. Permukaan paling luar dilindungi oleh kapsul berupa lapisan lendir yang juga berfungsi sebagai cadangan makanan. Akan tetapi untuk bakteri penyebab penyakit, kapsul ini berfungsi untuk menginfeksi inangnya (daya virulensi). Adapun pada lapisan di dalamnya terdapat dinding sel yang sangat kaku sehingga bisa memberikan bentuk dari bakteri itu sendiri, juga berfungsi untuk melindungi isi sel. Dinding sel ini tidak mengandung selulosa, tetapi tersusun dari hemiselulosa dan senyawa pektin yang mengandung nitrogen dan lebih mendekati sel hewan dibandingkan sel tumbuhan.
Gambar 4.4 Struktur sel bakteri
Gambar 4.4 Struktur sel bakteri
Berdasarkan dinding selnya, bakteri dibedakan menjadi dua, yaitu bakteri gram positif (jika timbul warna apabila diwarnai dengan tinta) dan bakteri gram negatif (tidak menimbulkan warna apabila diwarnai dengan tinta).
Struktur Utama di Luar Dinding Sel. Struktur utama di luar dinding adalah flagela, pili, dan kapsul. Apa yang Anda ketahui dari ketiganya?
1) Flagelum (jamak: Flagela). Bentuk flagela seperti rambut yang teramat tipis, mencuat menembus dinding sel, fungsinya untuk pergerakan pada sel bakteri. Flagela terdiri atas tiga bagian, yaitu tubuh dasar, struktur seperti kait, dan sehelai filamen panjang di luar dinding sel. Panjangnya beberapa kali lebih panjang dari selnya, tetapi diameternya jauh lebih kecil dari diameter selnya. Perlu Anda ketahui ada beberapa bakteri yang tidak memiliki flagelum yang disebut atrik. Berdasarkan letak dan jumlahnya, terdapat empat macam bakteri, yaitu monotorik, (memiliki satu flagelum pada salah satu ujung sel bakteri), lopotrik (memiliki dua/lebih flagela pada salah satu ujung sel bakteri), amfitrik (memiliki dua/lebih flagela di kedua ujung sel bakteri), dan peritrik (memiliki flagela di seluruh permukaan sel bakteri). Perhatikan Gambar 4.5 dan bandingkan bentuknya!
Gambar 4.5 Macam-macam flagelum
Gambar 4.5 Macam-macam flagelum
2) Pili (Fimbriae). Bentuknya seperti filamen, tetapi bukan flagela, banyak terdapat pada bakteri gram negatif. Ukurannya lebih kecil, lebih pendek, dan lebih banyak dari flagela. Pili ini tidak berfungsi untuk pergerakan, tetapi berfungsi sebagai pintu gerbang masuknya bahan genetik selama berlangsungnya perkawinan antarbakteri. Selain itu, pili juga mempunyai fungsi lain, yaitu sebagai alat untuk melekatkan pada berbagai permukaan jaringan hewan atau tumbuhan yang merupakan nutriennya. Contohnya, Sex pilus.
3) Kapsul. Kapsul merupakan suatu bahan kental berupa lapisan lendir. Ukurannya dipengaruhi oleh medium tempat tumbuhnya. Kapsul bakteri mempunyai arti penting bagi bakteri maupun organisme lain. Bagi bakteri, kapsul merupakan penutup/pelindung dan juga sebagai gudang makanan cadangan. Selain itu, dapat pula menambah kemampuan bakteri untuk menginfeksi. Perhatikan Gambar 4.6 dan pelajarilah!
Gambar 4.6 Bakteri berkapsul pada Klebsiella Pneumoniae
Gambar 4.6 Bakteri berkapsul pada Klebsiella Pneumoniae
Struktur di Sebelah Dalam Dinding Sel. Struktur paling umum yang terdapat di dalam dinding sel bakteri adalah sebagai berikut.
1) Membran Sitoplasma. Membran ini amatlah penting karena berfungsi mengendalikan keluar masuknya substansi kimiawi dalam larutan sel, yaitu mampu mengambil dan menahan nutrien seperti gula, asam amino, mineral, dalam jumlah yang sesuai dan membuang kelebihan nutrien atau produk-produk buangannya. Selain itu, juga berfungsi sebagai tempat perlekatan flagelum. Membran sitoplasma merupakan membran plasma yang membungkus sitoplasma beserta isinya. Bagaimana jika membran ini pecah atau rusak? Apakah sel bakteri akan mati? Coba Anda pikirkan bersama teman-teman satu kelas!
2) Mesosom. Apabila membran sitoplasma mengalami pelipatan ke arah dalam/ invaginasi, maka akan menghasilkan suatu struktur yang disebut mesosom. Mesosom ini selalu bersambungan dengan membran sitoplasma. Diduga mesosom bisa berfungsi dalam sintesis dinding sel dan pembelahan nukleus.
3) Sitoplasma dan Struktur-Struktur di Dalamnya. Sitoplasma merupakan cairan yang bersifat koloid dan berisi semua zat yang diperlukan untuk kehidupan sel. Bahan sel yang dikandungnya antara lain seperti berikut.
a) Daerah sitoplasma, berisi partikel-partikel RNA protein (ribosom). Ribosom ini merupakan biosintesis protein, dijumpai pada semua sel, baik eukariotik/prokariotik.
b) Daerah nukleus, bahan nukleus/DNA di dalam sel bakteri menempati posisi dekat pusat sel dan terikat pada mesosom sitoplasma. Bahan ini sebagai alat genetik yang terdiri atas kromosom.
c) Bagian zat alir, mengandung nutrien terlarut yang terbentuk sebagai tubuh inklusi. Pada bagian tubuh ini terdiri atas lipid, glikogen, polifosfat, dan pati. Jika materi-materi ini menumpuk maka akan membentuk granul/ globul di dalam sitoplasma. Contohnya, bakteri Thiobacillus thioparus yang menumpuk sejumlah besar sulfur yang tampak seperti granul.
4) Plasmid dan Endospora. Pada umumnya bakteri memiliki plasmid berbentuk seperti cincin yang terdapat di dalam sitoplasma. Fungsinya untuk pertahanan sel bakteri terhadap lingkungan yang tidak menguntungkan. Sama halnya dengan plasmid dalam keadaan lingkungan yang jelek, bakteri tersebut akan membentuk endospora. Endospora ini sebenarnya adalah spora/struktur yang berdinding tebal, pembentukannya terjadi di dalam sel bakteri. Endospora ini tahan terhadap panas dengan batas sekitar 120° C. Jika kondisi telah membaik, maka endospora akan bisa tumbuh menjadi bakteri seperti semula. Perhatikan bentuk plasmid dan endospora pada Gambar 4.7 dan 4.8 berikut!
Gambar 4.7 Plasmid dan endospora dalam sel bakteri
Gambar 4.7 Plasmid dan endospora dalam sel bakteri
Gambar 4.8 Clostridium dan Bacillus yang sedang membentuk endospora
Gambar 4.8 Clostridium dan Bacillus yang sedang membentuk endospora
Perkembangbiakan Bakteri. Bakteri juga digolongkan sebagai makhluk hidup. Coba ingatlah kembali ciri-ciri makhluk hidup untuk melestarikan jenisnya! Untuk melestarikan jenisnya, bakteri bisa berkembang biak dengan cara aseksual, yaitu dengan membelah diri dan seksual, yaitu secara konjugasi. Cara-cara perkembangbiakan bakteri adalah sebagai berikut.
Pembelahan Sel (Biner). Pelajarilah Gambar 4.9 berikut ini! Proses reproduksi yang paling umum dilakukan oleh bakteri adalah pembelahan biner melintang. Setelah pembentukan dinding sel melintang, maka satu sel tunggal membelah menjadi dua sel anak. Dua sel anak ini mempunyai bentuk dan ukuran yang sama dan akan tumbuh menjadi dewasa, seperti tampak pada Gambar 4.9. Pembelahan ini merupakan pembelahan secara langsung, artinya tidak melalui beberapa tahap. Proses ini berlangsung sangat cepat, setiap 20 menit membelah menjadi dua.
Gambar 4.9 Pembelahan biner pada bakteri
Gambar 4.9 Pembelahan biner pada bakteri
Coba Anda bayangkan, dalam satu hari berapa jumlah bakteri yang dihasilkan? Selanjutnya, dapat pula Anda bayangkan jumlah bakteri dalam seminggu, sebulan, dan seterusnya. Tentu jumlah bakteri akan sangat banyak. Dengan kemungkinan banyaknya jumlah bakteri bila terus terjadi perkembangbiakan, maka perlu upaya untuk mengendalikan perkembangbiakan bakteri tersebut. Apa yang terjadi di dunia ini bila tidak ada yang mengendalikan perkembangbiakan bakteri tersebut? Faktor-fator apa saja yang dapat mengendalikannya?
Konjugasi. Konjugasi merupakan cara reproduksi bakteri secara seksual. Hal ini dapat terjadi bila dua bakteri berdekatan yang memunculkan saluran sehingga bisa saling berhubungan. Dengan demikian, maka materi genetik bisa berpindah dari satu sel ke sel lain beserta sitoplasmanya, seperti terlihat pada Gambar 4.10.
Gambar 4.10 Konjugasi pada Escherichia coli
Gambar 4.10 Konjugasi pada Escherichia coli
Sampai saat ini para ahli belum dapat menentukan jenis kelamin bakteri, tetapi suatu penelitian pernah mengatakan bahwa yang memberikan DNA ke sel bakteri lain disebut sebagai “pejantan”, demikian sebaliknya jika yang menerima disebut sebagai “betina”. Setelah terjadi konjugasi, selanjutnya yang betina akan mengadakan pembelahan biner dan demikian seterusnya. Dengan demikian, dapat diketahui bahwa reproduksi secara generatif tejadi melalui tiga tahap, yaitu:
1) transformasi (pemindahan satu gen/DNA bakteri ke sel bakteri lain);
2) konjugasi;
3) terinduksi (proses pemindahan materi genetik melalui perantaraan/infeksi virus).

Protista Mirip Hewan (Protozoa)

Protista Mirip Hewan (Protozoa)- Kata protozoa berasal dari bahasa Yunani, yakni proto yang berarti pertama dan zoa yang berarti hewan. Protista mirip hewan adalah golongan Protozoa. Protozoa merupakan salah satu bagian kelompok dari Protista, apa sebabnya? Protozoa memiliki ciri-ciri yang sama dengan Protista, yaitu tubuhnya terdiri atas satu sel dan eukariotik. Untuk itulah semua aktivitas protozoa dilakukan oleh sel itu sendiri seperti bergerak, bereproduksi, dan lain-lain. Tubuh Protozoa umumnya tidak mempunyai dinding sel yang kuat dan di dalamnya terdapat nukleus, vakuola, mitokondria, dan ribosom. Ukuran tubuh protozoa berkisar antara 5-100 milimikron, jadi sangat mikroskopis. Protozoa Hidupnya ada yang berkoloni dengan membentuk kumpulan sel dan ada pula yang berperilaku sebagai parasit pada organisme lain. Lebih dari 64.000 species Protozoa telah dikenal, diperkirakan 32.000 berupa fosil dan 22.000 merupakan bentuk-bentuk yang bebas, 10.000 adalah sebagai parasit. Sebagian lagi hidup protozoa secara berkoloni atau hidup soliter, sebagian dapat bergerak bebas dan dapat pula menempel (sessil). Di manakah kita dapat menemukan Protozoa?
Protista Mirip Hewan atau Protozoa mempunyai tempat hidup di mana-mana, yaitu di perairan, misalnya di kolam, air laut, air tawar, tetapi ada juga yang hidup sebagai parasit pada hewan atau tumbuhan, bahkan manusia. Di tanah pun protozoa bisa hidup, untuk itulah protozoa dimasukkan kelompok kosmopolit, artinya dapat ditemukan di berbagai tempat. Karena hidupnya ada yang berada di perairan, maka protozoa mempunyai peranan penting dalam rantai makanan untuk komunitas lingkungan akuatik.
Masih ingatkah Anda mengenai rantai makanan (food chain)? Peranan Protozoa sebagai zooplankton (organisme seperti hewan) adalah Protozoa yang hidup dari fitoplankton (organisme seperti tumbuhan) yang fotosintetik dan zooplankton sebagai makanan bagi hewan-hewan yang lebih besar. Karena peristiwa tersebut sehingga dapat digambarkan sebagai berikut:
Energi cahaya → Fitoplankton → Zooplankton → hewan-hewan yang lebih besar
Begitu juga Protozoa yang hidup di lingkungan daratan yang basah atau akuatik, mereka sebagai pemakan bakteri atau cendawan atau disebut Protozoa saprofitik dengan memanfaatkan substansi yang dihasilkan oleh bakteri atau cendawan. Oleh sebab itu, dapat dikatakan Protozoa berperan sangat penting di dalam keseimbangan ekologis dan dapat digambarkan sebagai berikut.
Gambar 5.3 Beberapa macam Protozoa
Gambar 5.3 Beberapa macam Protozoa
1) Ciri Morfologi Protozoa. Bentuk Protozoa sangat beragam, ada yang berbentuk lonjong, menyerupai bola, memanjang, dan polimorfik (memiliki berbagai bentuk morfologi), ukuran tubuhnya berdiameter 1 milimikron. Bagaimana dengan hasil pengamatan Anda? Sel Protozoa terbungkus membran sitoplasma dan setiap selnya mempunyai satu atau beberapa nukleus. Pada umumnya Protozoa dapat membentuk sista atau seludang yang dibuat secara vegetatif/trofozoit sehingga dapat melindungi dirinya terhadap bahaya dari alam sekitarnya, misalnya kekeringan dan kehabisan makanan atau keasaman perut di dalam inangnya. Untuk mempertahankan jenisnya, Protozoa berkembang biak dengan cara aseksual/vegetatif dan seksual/generatif.
2) Cara Reproduksi Protozoa. Untuk mempertahankan jenisnya, Protozoa berkembang biak dengan cara aseksual/ vegetatif dan seksual/generatif. Reproduksi secara aseksual, yaitu dengan cara membelah diri atau pembagian selnya sama. Pembelahan ini dapat terjadi, baik secara membujur atau melintang pada sepanjang selnya sehingga menghasilkan anak-anak sel yang dapat berukuran sama atau tidak sama.
Gambar 5.4 Pembelahan biner pada Paramecium
Gambar 5.4 Pembelahan biner pada Paramecium
Jika pada proses pembelahan diri (pembagiannya) menghasilkan dua anak sel, maka disebut pembelahan biner, namun apabila terbentuk banyak anak sel dinamakan pembelahan bahu rangkap (multipel fission). Beberapa kelompok Protozoa bereproduksi secara seksual, yaitu dengan cara penggabungan atau penyatuan fisik sementara antara dua individu kemudian terjadi pertukaran nukleus. Dengan demikian, akan terjadi perpaduan sifat yang dibawa oleh kedua individu tersebut dan menghasilkan satu individu baru. Cara pembiakan ini disebut dengan konjugasi, seperti yang terlihat pada Gambar 5.5.
Gambar 5.5 Pembiakan secara konjugasi pada Ciliata
Gambar 5.5 Pembiakan secara konjugasi pada Ciliata
3) Ciri Fisiologi Protozoa. Pada suhu berapa Protozoa dapat hidup? Pada umumnya Protozoa membutuhkan suhu optimum untuk tumbuh antara 16-25°C, dengan suhu maksimumnya antara 36-40°C. Adapun pH (derajat keasaman optimum) untuk proses metabolismenya adalah antara pH 6-8. Anda sudah mengetahui bahwa Protista ada yang fotoautotrof dan heterotrof. Bagaimana dengan Protozoa? Karena Protozoa termasuk anggota Protista, maka Protozoa juga mempunyai klorofil dan bersifat fotoautotrof. Namun, ada beberapa Protozoa yang tidak memiliki klorofil. Protozoa jenis ini mendapatkan makanan/nutrien organiknya melalui membran sitoplasma seperti pada bakteri. Cobalah ingat kembali tentang bakteri! Ada juga Protozoa yang makan dengan cara menelan makanannya yang berupa partikel-partikel padat melalui rongga mulut. Makanannya antara lain berupa bakteri, ganggang, bahkan Protozoa jenis lain. Setelah ditelan, makanan tersebut akan masuk/terkurung di dalam vakuola. Di sinilah makanan tersebut akan dirombak oleh enzim-enzim dari substansi yang kompleks menjadi bentuk terlarut yang dapat diasimilasi. Ada beberapa bahan makanan setelah tertelan tidak terurai menjadi bentuk yang terlarut dalam vakuola dan dapat dikeluarkan dari sel melalui pori anus atau tetap berada di dalam vakuola yang akan bergerak di permukaan sel sehingga vakuola akan pecah dan membuka untuk membuang kotoran-kotoran itu dari dalam sel.
Dari kejadian itu, Anda dapat memikirkan jika Protozoa itu bersifat parasit, yaitu hidup pada organisme lain, apakah inang yang ditumpangi akan mengalami keadaan patologis? Jika ya, berarti dalam hal ini Protozoa bersifat merugikan bukan? Terkadang interaksi antara Protozoa dengan organisme lain bisa bersifat mutualisme/menguntungkan, misalnya Flagellata (jenis Protozoa) yang hidup di dalam usus rayap yang dapat mencerna selulose dalam kayu menjadi bentuk yang dapat dimanfaatkan oleh rayap itu sendiri karena apabila Flagellatanya dihilangkan dari ususnya maka rayap itu akan mati. Jadi, apakah yang terkandung dalam Flagellata? Coba pikirkan!

Ciri-ciri Flagellata dan Rhizopoda

Ciri-ciri Flagellata dan Rhizopoda- Berdasarkan alat geraknya, protozoa ada berbentuk bulu getar (cilia), kaki semu (pseudopodia), dan cambuk (flagela), tetapi ada juga yang tidak memiliki alat gerak. Dengan dasar inilah Protozoa dibedakan menjadi 4 kelas, yang akan di bahas disini adalah flagellata dan rhizopoda.

a) Ciri-ciri Flagellata (Filum Mastigophora).

Apabila kita melihat dari namanya, maka Flagellata ini bergerak dengan bantuan satu atau lebih flagela. Bentuk flagela seperti cambuk. Letaknya berada pada ujung anterior tubuhnya. Selain berfungsi sebagai alat gerak, flagela juga dapat digunakan untuk mengetahui keadaan lingkungannya. Tampak pula membran yang berombak-ombak dan kelihatan menonjol, sehingga flagela dan membran ini berguna untuk gerak aktif dan atau mengumpulkan makanan dengan cara menghasilkan aliran air di sekitar mulut sehingga makanan dapat memasuki mulut. Sitoplasma Flagellata dikitari oleh polikel atau pembungkus yang nyata sehingga memberikan bentuk tubuhnya. Flagellata meliputi sekitar 1500 jenis Protozoa yang semuanya mempunyai alat gerak flagela. Semua jenis dalam kelompok ini berkembang biak secara aseksual dengan membelah diri secara membujur. Beberapa jenis Flagellata bersimbiosis dengan organisme lain, misalnya Oikomonas synsyanotica dan Amphisolenia bersimbiosis dengan Cyanobacteria. Jenis yang lain bersifat parasit yang mengifeksi manusia dan menimbulkan penyakit pada alat kelamin, usus, dan penyakit sistemik.
Dilihat dari bentuknya, Flagellata dikelompokkan menjadi dua, yaitu berbentuk seperti tumbuhan, dinamakan fitoflagelata yang mengandung klorofil dan bersifat fotosintetik, contohnya Euglena. Adapun yang berbentuk seperti hewan disebut zooflagelata, tidak mempunyai klorofil dan bersifat heterotrof, contohnya, Trypanosoma. Apa peranan Flagellata pada makhluk hidup?
(1) Trichonympha dan Myxotricha
Jenis Flagellata ini hidup di dalam usus rayap yang membantu rayap untuk mencerna kayu karena dapat mengeluarkan enzim selulosa. Enzim ini membuat partikel kayu tersebut menjadi lebih lunak, sehingga mudah dirombak dan terurai menjadi bagian-bagian kecil lalu diserap oleh rayap. Bahan yang diserap ini sebagian dibutuhkan oleh rayap dan sebagian untuk kelangsungan hidup Flagellata.
(2) Trypanosoma gambiense
Golongan dari species ini pada umumnya hidup sebagai parasit yang hidup di dalam darah, baik manusia maupun ternak. Penyakit ini pernah menyerang orang Afrika bagian barat dengan gejala awal si penderita suka tidur dan dikenal dengan penyakit tidur. Trypanosoma gambiense hidup di dalam kelenjar ludah lalat Tsetse (Glossina palpalis). Pada saat menusuk kelenjar yang mengandung parasit tersebut masuk ke dalam darah manusia yang menyerang getah bening (kelenjar limfa) dan akibatnya kelenjar limfa si penderita membengkak/membesar dan terasa nyeri disertai demam tinggi.
Gambar 5.6 Lalat Tsetse pembawa Trypanosoma Gambiense
Gambar 5.6 Lalat Tsetse pembawa Trypanosoma Gambiense
Apabila tidak segera diobati, setelah beberapa bulan kemudian Trypanosoma gambiense akan menyerang sistem saraf pusat (otak). Hal tersebut akan mengakibatkan penderita mengalami kelumpuhan, penurunan mental, dan tidak dapat berbicara dengan jelas serta sering pingsan. Jika keadaaan ini berlanjut, maka si penderita akan koma dan akhirnya akan meninggal dunia. Penyakit ini dikenal sebagai penyakit tidur di “Afrika Barat”. Apakah juga ada penyakit tidur di Afrika Timur? Penyakit tidur di Afrika Timur disebabkan oleh jenis species Trypanosoma rhodesiense, hanya penularannya melalui lalat Glossina morsitans. Perhatikan bentuk lalat Tsetse pada Gambar 5.6!
(3) Trichomonas vaginalis
Bila ditinjau dari namanya, jenis ini menimbulkan satu tipe penyakit vaginitis, yaitu merupakan peradangan pada vagina yang ditandai dengan keluarnya cairan dan disertai rasa panas seperti terbakar dan rasa gatal. Species ini tidak mempunyai stadium sista dan menyebar sebagai penyakit kelamin. Dapat juga menginfeksi dan menular pada pria yang menimbulkan penyakit prostatitis. Trichomonas vaginalis dapat berpindah dari wanita pada ke pria melalui hubungan seksual.
(4) Giardia lamblia
Merupakan satu-satunya Protozoa usus yang menimbulkan penyakit disentri/diare dan kejang-kejang di bagian perut. Protozoa ini ditemukan dalam duodenum/usus dua belas jari. Penularannya melalui makanan atau minuman yang tercemar dan melalui kontak dari tangan ke mulut.
(5) Leishmania donovani
Leishmania donavani menimbulkan penyakit pada anjing dan dapat ditularkan pada manusia. Penyakit ini menyebabkan perbesaran limpa, hati, kelenjar limfa, anemia sehingga dapat menimbulkan kematian. Inang perantaranya sejenis lalat pasir (Phlebotomus). Di Indonesia penyakit seperti ini belum pernah ditemukan.

b) Ciri-ciri Rhizopoda (Filum Sarcodina).

Kata Rhizopoda berasal dari kata rhizo yang berarti akar dan podos yang berarti kaki. Rhizopoda memiliki membran plasma yang fleksibel dan dapat melebar ke arah mana pun, membentuk pseudopodia (kaki semu) yang digunakan untuk bergerak dan mendapatkan makanan. Rhizopoda yang dikenal dengan sebutan Amoeba biasanya ditemukan di danau atau di kolam. Amoeba tidak mempunyai organel-organel sel yang banyak, seperti pada Zooflagelata ataupun Ciliophora. Akan tetapi, Amoeba memiliki struktur internal kompleks dan memiliki kemampuan yang baik dalam merasakan serta menangkap mangsa. Saat ini telah diketahui sekitar 40.000 jenis Rhizopoda, yaitu Protozoa yang bentuknya tidak tetap, selalu berubah-ubah. Rhizopoda meliputi ratusan jenis Amoeba yang hidup di air tawar, air asin, di tanah yang lembab, dan beberapa jenis hidup sebagai parasit pada hewan dan manusia. Beberapa Rhizopoda mempunyai pelindung berupa testa, misalnya Foraminifera dan Radiolaria yang hidup di laut. Rhizopoda yang hidup di air tawar mempunyai vakuola kontraktil untuk membuang kelebihan air di dalam sel. Beberapa jenis dapat membentuk sista jika lingkungan tidak menguntungkan. Sel Rhizopoda dilindungi oleh sebuah membran tipis, di bagian luarnya terdapat lapisan tipis yang agak kaku disebut ektoplasma. Ektoplasma berfungsi sebagai tempat ekskresi dan tempat pertukaran gas, yaitu masuknya oksigen dan keluarnya karbon dioksida. Di sebelah dalam membran sel terdapat sitoplasma bergranuler dan nukleus yang berbentuk lonjong.
Amoeba merupakan salah satu anggota Rhizopoda yang terkenal. Golongan Rhizopoda ini bergerak dengan menggunakan kaki semu (pseudopodia). Kaki semu ini sebenarnya merupakan perluasan protoplasma sehingga dapat bergerak di suatu permukaan dan menelan partikel-partikel makanan kemudian masuk dalam vakuola yang akan dicerna dalam vakuola tersebut.
Bentuk Amoeba senantiasa berubah-ubah, hidupnya bebas, terdapat di tanah becek atau di perairan yang banyak mengandung bahan organik, tetapi ada juga yang hidup sebagai parasit yang sering dikenal dengan sebutan Entamoeba. Tampak pada Gambar 5.7 pada bagian luar tubuh Amoeba terdapat membran sel/membran plasma sebagai pelindung isi sel dan pengatur pertukaran zat makanan, gas, ekskresi. Di sebelah dalam terdapat sitoplasma, yaitu bagian luar (ektoplasma) berbatasan dengan membran, tipis, dan jernih. Di sebelah dalam (endoplasma) bersifat lebih keruh karena terdapat organel sel. Di dalam organel sel terdapat vakuola yang berguna untuk mencerna makanan dan mengedarkannya, mengatur pembuangan sisa-sisa metabolisme berupa cairan atau gas dan inti/ nukleus yang berfungsi sebagai pusat pengaturan proses yang terjadi di dalam sel.
Gambar 5.7 Amoeba proteus dan bagian-bagiannya
Gambar 5.7 Amoeba proteus dan bagian-bagiannya
Bagaimana cara Amoeba mendapatkan makanan? Jika ada makanan di luar, ia akan menjulurkan pseudopodianya dan akan bergerak menuju makanan tersebut. Pseudopodia akan mengelilingi makanan tersebut dan akan masuk dalam membran plasma. Selanjutnya, prosesnya sama seperti terjadi pada Protozoa. Perhatikan cara Amoeba mendapatkan makanan pada Gambar 5.8 berikut!
Gambar 5.8 Cara Amoeba mendapatkan makanan
Gambar 5.8 Cara Amoeba mendapatkan makanan
Jika makanannya habis, Amoeba dapat mempertahankan hidupnya dengan membentuk kista, yaitu dengan tubuhnya yang inaktif berubah berbentuk bulat, sehingga membran plasmanya menebal untuk melindungi tubuhnya dari kondisi luar yang jelek. Jika keadaan luar sudah memungkinkan, misalnya tersedia makanannya, maka dinding kista tersebut akan pecah dan keluarlah Amoeba tersebut untuk memulai hidupnya kembali. Bagaimana juga dengan caranya bereproduksi?
Gambar 5.9 Pembelahan biner Amoeba Amoeba memperbanyak diri dengan membelah
Gambar 5.9 Pembelahan biner Amoeba. Amoeba memperbanyak diri dengan membelah. Waktu yang diperlukan dari A sampai F adalah 21 menit.
Coba perhatikan Gambar 5.9! Amoeba memperbanyak diri dengan cara pembelahan inti sel menjadi dua yang diikuti dengan pembelahan sitoplasma (sitokinesis). Mula-mula, nukleus membelah (kariokinesis) sehingga terjadi pelekukan membran plasma ke arah dalam. Pelekukan ini menggenting dan terputus sehingga terbentuk dua sel anak. Waktu yang diperlukan untuk proses pembelahan ini adalah 21 menit. Apa peranan Rhizopoda dalam kehidupan manusia?
(1) Entamoeba
Golongan Entamoeba yang banyak hidup pada manusia, misalnya Entamoeba gingivalis yang hidup di dalam mulut manusia dan merupakan salah satu penyebab radang pada gusi. Untuk mencegah penyakit ini seringlah menggosok gigi untuk mencegah pembusukan makanan yang sangat baik sebagai tempat hidupnya. Entamoeba coli hidup dalam usus manusia dan bersifat tidak berbahaya. Species ini bila hidup di perut ruminansia akan membantu proses pencernaan makanannya. Tetapi untuk Entamoeba histolytica bersifat parasit pada usus manusia yang akan menyebabkan penyakit diare atau dikenal dengan penyakit amebiasis. Apabila tidak diobati, maka kista Amoeba dapat mencapai hati dan tinggal di dalamnya sampai bertahun-tahun dan suatu saat kista tersebut akan tumbuh dan menyerang organ hati. Untuk itulah, handaknya selalu mengusahakan supaya makanan/minuman yang kita konsumsi bersih.
(2) Foraminifera dan Radiolaria
Ciri-ciri Foraminifera dan Radiolaria adalah memiliki cangkang keras yang mengandung bahan silikon dan kalsium karbonat. Setelah mati dan menjadi fosil, cangkang tersebut dapat menentukan umur lapisan bumi dan dapat digunakan sebagai indikator adanya sumber minyak bumi.
Gambar 5.10 (a) Foraminifera
Gambar 5.10 (a) Foraminifera (b) Radiolaria
(b) Radiolaria

Ciri-Ciri Ciliata dan Sporozoa

Ciri-Ciri Ciliata dan Sporozoa. Berdasarkan alat geraknya protozoa ada berbentuk bulu getar (cilia), kaki semu (pseudopodia), dan cambuk (flagela), tetapi ada juga yang tidak memiliki alat gerak. Dengan dasar inilah Protozoa dibedakan menjadi 4 kelas, apa saja yang termasuk dalam kelas Protozoa? Pada bagian ini akan dibahas Ciliata (Filum Ciliophora), dan Sporozoa (Filum Sporozoa).
a) Ciri-Ciri Ciliata (Filum Ciliophora). Amatilah kelompok Ciliata pada Gambar 5.11 di bawah ini!
Gambar 5.11 Macam-macam Ciliata
Gambar 5.11 Macam-macam Ciliata
Ciri khusus apa yang terdapat di dalam kelompok Ciliata? Jika kita amati, ciri yang ada adalah terdapatnya rambut getar atau disebut “silia” yang terdapat pada seluruh permukaan tubuhnya, tetapi ada juga yang hanya terdapat pada sebagian tubuhnya. Apa fungsi dari silia ini? Silia berfungsi untuk bergerak, silia yang terdapat di sekitar rongga-rongga mulut dapat menimbulkan efek pusaran air yang dapat membantu untuk mengumpulkan makanan. Sesuai dengan organ tubuhnya, Ciliata hidup di tempat yang berair seperti sawah, rawa, atau tanah yang becek.
Gambar 5.12 bagian struktur Paramecium
Gambar 5.12 Paramecium
Ciliata mempunyai sel yang memiliki dua nukleus, yaitu makronukleus dan mikronukleus. Masing-masing nukleus ini mempunyai tugas sendiri-sendiri, makronukleus mengatur struktur dan metabolisme sel dan mikronukleus bertugas untuk mengatur aktivitas reproduksi. Contoh yang terkenal dari Ciliata adalah species Paramecium, amatilah bentuknya pada Gambar 5.12!
Dilihat dari bentuknya, Ciliata berbentuk seperti sandal sehingga dikenal sebagai “hewan sandal”. Ukuran tubuhnya sekitar 250 milimikron. Seluruh permukaan tubuhnya ditumbuhi beribu-ribu silia dan pangkalnya menancap pada polikel. Silia berfungsi sebagai alat gerak maju dan mundur atau berbelok dengan cara menggetarkan silianya. Lekukan pada permukaan sel seperti yang terlihat pada Gambar 5.12 adalah mulut Paramecium yang disebut sitostoma.
Mulut ini berfungsi sebagai jalan makanan masuk dalam kerongkongan sel (sitofaring) dan ujung sitostoma membentuk vakuola makanan sehingga makanan dapat dicerna kemudian diedarkan ke seluruh sel, sari makanannya masuk ke dalam sitoplasma. Sisa makanannya berbentuk padat dan cair, yang padat dikeluarkan melalui membran sel, sedangkan sisa makanan yang berbentuk cair dikeluarkan melalui vakuola berdenyut yang berjumlah dua buah dan letaknya di ujung sel. Bagaimana cara Paramecium berkembang biak? Pada dasarnya cara Paramecium berkembang biak sama seperti yang lain, yaitu secara aseksual dengan pembelahan biner melintang dan secara seksual dengan konjugasi dua sel.
(1) Aseksual
Perhatikan pada Gambar 5.13! Paramecium berkembang biak dengan pembelahan biner. Tampak satu sel membelah menjadi 2, kemudian menjadi 4, 8, dan seterusnya. Pembelahan ini diawali dengan mikronukleus yang membelah dan diikuti oleh pembelahan makronukleus. Kemudian akan terbentuk 2 sel anak setelah terjadi penggentingan membran plasma. Perlu Anda ketahui masing-masing sel anak tersebut identik dan alat sel lainnya mempunyai dua nukleus, sitoplasma.
(2) Seksual
Paramecium juga dapat berkembang biak secara kawin (seksual), yaitu dengan cara konjugasi. Tahukah Anda hewan ini tidak dapat dibedakan antara jantan dan betina. Agar lebih jelas perhatikan Gambar 5.14!
Gambar 5.13 Pembelahan biner pada Paramecium
Gambar 5.13 Pembelahan biner pada Paramecium
Gambar 5.14 Konjugasi Paramecium
Gambar 5.14 Konjugasi Paramecium
  1. Dua Paramecium saling berdekatan lalu saling menempel. Kemudian terjadi dua sel saling menempel pada bagian mulut sel. Membran sel pada sel yang saling menempel tersebut melebar dan terbentuk suatu saluran.
  2. Pada bagian masing-masing sel terdapat mikronukleus diploid (2n) yang membelah secara meiosis menjadi 4 mikronukleus haploid (n), sedangkan makronukleusnya tidak mengalami perubahan.
  3. Selanjutnya, masing-masing 4 mikronukleus haploid (n), di setiap sel membelah secara mitosis menjadi 8 mikronukleus (n).
  4. 8 mikronukleus (n) yang terbentuk, 7 mikronukleus hancur, sehingga setiap sel hanya memiliki 1 mikronukleus dan 1 makronukleus.
  5. Mikronukleus membelah secara mitosis menjadi 2 mikronukleus, sedangkan makronukleus lenyap, sehingga pada masing-masing sel hanya mengandung mikronukleus.
  6. Terjadi saling tukar-menukar mikronukleus, yaitu mikronukleus pindah ke sel lain dan sebaliknya. Mikronukleus yang saling tukar-menukar tersebut melebur dengan mikronukleus yang tidak pindah. Jadi, setelah hasil peleburan itu, setiap sel memiliki mikronukleus diploid.
  7. Setiap sel yang telah memiliki mikronukleus diploid (2n), selnya pisah dan konjugasi berakhir. Kemudian 1 mikronukleus membelah secara mitosis menghasilkan 2 mikronukleus.
  8. Salah satu dari 2 mikronukleus itu tumbuh menjadi makronukleus, sehingga setiap sel memiliki 1 mikronukleus dan 1 makronukleus.
Anggota Ciliata yang hidup bebas, contohnya adalah Stentor yang memiliki bentuk seperti terompet, pada bagian mulutnya ditumbuhi silia, sedangkan tangkainya melekat pada substrat. Vorticella berbentuk seperti lonceng bertangkai panjang dan Didinium sebagai pemangsa Paramecium. Perhatikan Gambar 5.15 berikut!
(a) Stentor
(a) Stentor
(b) Vorticella
(b) Vorticella
(c) Didinium
(c) Didinium
Selain hidup bebas, ada juga Paramecium yang hidup sebagai parasit, misalnya Balantidium coli, yang bersifat parasit pada manusia, yaitu menyebabkan penyakit diare berdarah yang gejalanya sama dengan penyakit diare. Inang perantara penyakit ini adalah babi, yaitu melalui makanan/minuman yang tercemar oleh kotoran babi yang mengandung Balantidium coli.
b) Ciri-Ciri Sporozoa (Filum Sporozoa)
Sporozoa merupakan satu-satunya anggota Protozoa yang tidak memiliki alat gerak dan bergerak dengan cara meluncurkan tubuhnya dalam medium tempat hidupnya. Sesuai dengan namanya, dia mempunyai ciri khas, yaitu membentuk spora. Sporozoa hidup sebagai parasit. Cara mendapatkan makanannya dengan menyerap nutrisi inangnya, misalnya Plasmodium yang merupakan anggota Sporozoa paling terkenal. Pada tubuh manusia, Plasmodium menyebabkan penyakit malaria. Penularannya terjadi melalui gigitan nyamuk Anopheles betina. Setelah digigit, Plasmodium langsung menyebar di dalam darah dan berkembang biak di dalam hati dan akan menginfeksinya sehingga menyebabkan kematian.
(1) Jenis-Jenis Plasmodium
Ada empat jenis species Plasmodium yang dapat menyebabkan penyakit malaria. Masing-masing jenis Plasmodium menimbulkan gejala-gejala tersendiri pada tubuh penderitanya.
(a) Plasmodium vivax, merupakan penyebab malaria tersiana yang bersifat tidak ganas, gejalanya adalah suhu badan panas dingin berganti-ganti setiap 2 hari sekali (48 jam).
(b) Plasmodium ovale, merupakan penyebab malaria tersiana yang ganas, gejalanya sama dengan pada malaria tersiana.
(c) Plasmodium malariae, penyebab malaria kuartana yang bersifat tak ganas, gejalanya suhu badan panas dingin setiap 3 hari sekali (72 jam).
(d) Plasmodium falciparum, penyebab malaria kuartana yang bersifat ganas, gejalanya suhu badan panas dingin tak beraturan.
(2) Cara hidup Plasmodium
Karena Plasmodium ini dalam hidupnya menempati dua inang, yaitu nyamuk dan manusia, maka dia mengalami dua fase siklus hidup. Perhatikan daur hidup yang dijalani oleh Plasmodium penyebab penyakit malaria pada Gambar 5.16!
Gambar 5.16 Daur hidup Plasmodium
Gambar 5.16 Daur hidup Plasmodium
Dari Gambar 5.16 terlihat bahwa daur hidup Plasmodium ada dua, yaitu:
(a) Fase di dalam tubuh nyamuk (fase sporogoni)
Di dalam tubuh nyamuk ini terlihat Plasmodium melakukan reproduksi secara seksual. Pada tubuh nyamuk, spora berubah menjadi makrogamet dan mikrogamet, kemudian bersatu dan membentuk zigot yang menembus dinding usus nyamuk. Di dalam dinding usus tersebut zigot akan berubah menjadi ookinet ookista sporozoit, kemudian bergerak menuju kelenjar liur nyamuk. Sporozoit ini akan menghasilkan spora seksual yang akan masuk dalam tubuh manusia melalui gigitan nyamuk.
(b) Fase di dalam tubuh manusia (fase skizogoni)
Setelah tubuh manusia terkena gigitan nyamuk malaria, sporozoit masuk dalam darah manusia dan menuju ke sel-sel hati. Di dalam hati ini sporozoit akan membelah dan membentuk merozoit, akibatnya sel-sel hati banyak yang rusak. Selanjutnya, merozoit akan menyerang atau menginfeksi eritrosit. Di dalam eritrosit, merozoit akan membelah diri dan menghasilkan lebih banyak merozoit. Dengan demikian, ia akan menyerang atau menginfeksi pada eritrosit lainnya yang menyebabkan eritrosit menjadi rusak, pecah, dan mengeluarkan merozoit baru. Pada saat inilah dikeluarkan racun dari dalam tubuh manusia sehingga menyebabkan tubuh manusia menjadi demam. Merozoit ini dapat juga membentuk gametosit apabila terisap oleh nyamuk (pada saat menggigit) sehingga siklusnya akan terulang lagi dalam tubuh nyamuk, demikian seterusnya. Coba Anda pikirkan fase apakah yang terjadi di dalam tubuh manusia? Selain Plasmodium, ada juga anggota Sporozoa yang merugikan manusia, yaitu Toxoplasma gandii, yaitu merupakan penyebab penyakit toksoplasmosis yang menyebabkan meningitis, hepatitis, dan infeksi janin manusia. Jika menyerang janin dalam kandungan, maka bayi yang lahir akan mati atau lahir dengan cacat mental, kebutaan, serta terjadinya pembengkakan hati.
Bagaimana manusia dapat terkena penyakit ini? Penyakit ini antara lain ditularkan melalui makanan, khususnya daging yang pemasakannya kurang matang, yang sangat baik sebagai tempat hidupnya tropozoit (kista toksoplasma). Bisa juga ditularkan oleh hewan bangsa kucing dan burung, karena di dalam sel-sel usus kucing akan terjadi fase seksual dari T. gandii. Adakah kucing atau burung yang menjadi peliharaan di rumah Anda? Jika ada, maka Anda harus lebih berhati-hati agar tidak tertular penyakit ini.

Protista Mirip Tumbuhan (ganggang)

Protista Mirip Tumbuhan (ganggang)- Beberapa ahli berpendapat bahwa Protista mirip tumbuhan adalah alga (ganggang) yang mikroskopis, adapun alga yang makroskopis termasuk Plantae. Yang termasuk alga mikroskopis adalah Filum Euglenophyta, Pyrrophyta, dan Chryssophyta. Alga mikroskopis memiliki ciri-ciri khusus, yaitu dapat berfotosintesis sama seperti tumbuhan, tersebar luas di alam, dan dijumpai hampir di segala macam lingkungan yang terkena sinar matahari. Alga renik yang terapung-apung di perairan ini merupakan bagian fitoplankton yang berguna sebagai sumber makanan penting bagi organisme-organisme lain, sama seperti fungsi Protozoa yang sudah Anda pelajari di depan.
Alga sangat berperan atau dikatakan sebagai dasar permulaan dalam rantai makanan karena kegiatan fotosintesisnya sehingga dinamakan sebagai ‘produsen primer’ bahan organik. Di dalam kegiatan fotosintesisnya, alga menghasilkan oksigen. Gas ini sangat penting untuk binatang maupun organisme lain dalam aktivitas respirasi aerobik. Selain itu, juga sangat penting dalam pengendalian polusi dan bahan buangan. Banyak alga yang mensintesis vitamin A dan D. Dengan dimakan ikan, maka vitamin-vitamin itu disimpan di dalam organ (misalnya hati) dan di tempat inilah dapat diekstraksi atau digunakan secara langsung sebagai sumber makanan yang kaya akan vitamin sehingga baik dikonsumsi manusia.
1) Ciri Morfologi Protista Mirip Tumbuhan. Dari hasil Kegiatan Kelompok 3 dapat diketahui bahwa alga seperti Protista eukariotik lainnya. Bentuk selnya ada yang tunggal dan multiseluler berbentuk bola, batang, gada, dan kumparan; mempunyai nukleus yang dibatasi membran dan mengandung butir-butir seperti pati, tetesan minyak seperti lendir, dan vakuola. Coba amati dan perhatikan lantai kamar mandi di rumah Anda! Sering lantai kamar mandi licin, hal ini disebabkan pada lantai kamar mandi ditumbuhi alga.
Setiap sel alga mempunyai inti dan plastida, dalam plastida terdapat zat-zat warna derivat klorofil dengan warna-warna yang lain berupa fikosianin (warna biru), fukosantin (warna pirang), fikoeritrin (warna merah). Selain itu, ditemukan pula zat-zat warna xantofil dan karotin sehingga alga mampu berfotosintesis. Alga tidak mempunyai akar, batang, dan daun sejati yang disebut sebagai ‘tubuh yang bertalus’. Alga yang bergerak dilengkapi dengan alat flagela. Ada yang tunggal, berpasangan, atau bergerombol.
2) Cara Bereproduksi Protista Mirip Tumbuhan. Sama seperti Protozoa, alga ini berkembang biak secara aseksual dan seksual. Secara aseksual dengan pembelahan biner sederhana dan secara seksual melalui konjugasi gamet yang akan menghasilkan zigot.
3) Jenis-Jenis Filum Protista yang Mirip Tumbuhan. Protista ini mempunyai beberapa filum seperti berikut ini.
a) Filum Euglenophyta
Pernahkah Anda melihat plankton? Salah satu penyusun plankton adalah kelompok ini, memiliki sel tunggal, dan mempunyai inti yang sesungguhnya. Euglenophyta merupakan kelompok protista yang unik karena dia memiliki sifat mirip tumbuhan dan hewan. Dianggap mirip tumbuhan karena memiliki klorofil a dan b, juga ditemukan karotin sehingga dia akan berfotosintesis. Euglenophyta dianggap mirip hewan karena dapat bergerak aktif dengan pertolongan satu atau beberapa bulu cambuk (flagela) yang keluar dari selnya. Karena mempunyai alat gerak, dia dapat hidup di perairan, misalnya air tawar dan air tergenang. Amatilah Euglena pada Gambar 5.17!
Gambar 5.17 Struktur Euglena
Euglena merupakan anggota yang khas dari kelompok ini, jumlahnya sekitar 400 species. Perhatikan bentuk selnya! Sel Euglena berbentuk oval memanjang, tidak kaku, tidak mempunyai dinding sel yang berisikan selulose, dan membran luarnya lentur. Dengan demikian, dia dapat berubah bentuk dengan mudah. Pada bagian salah satu ujungnya terdapat mulut sel dan dari mulut sel itu tumbuh satu flagela panjang yang digunakan untuk bergerak. Tampak juga bintik mata berwarna merah yang dinamakan stigma, berfungsi untuk membedakan terang dan gelap. Euglena juga mempunyai kerongkongan anterior, meskipun tidak digunakan untuk menelan makanan yang berbentuk partikel. Di dalam sel terdapat juga vakuola kontraktil fungsinya sama dengan Protozoa, cobalah Anda ingat kembali!
Bagaimana cara Euglena mendapatkan makanannya? Organisme ini melakukan fotosintesis dalam kloroplas dan bersifat autotrofik fakultatif. Sebagian besar organisme ini mampu mengasimilasi substansi organik selama fotosintesis. Bahkan, beberapa jenis Euglena dapat menelan makanan berbentuk partikel melalui lubang-lubang sementara yang berdekatan dengan kerongkongan. Bagaimana pula cara dia memperbanyak diri? Pada dasarnya cara berkembang biak Euglena sama dengan Protozoa, yaitu secara aseksual.
Pada umumnya golongan ini berkembang biak secara aseksual dengan pembelahan biner membujur. Pada mulanya membelah menurut poros bujur. Selnya yang mempunyai 2 bulu cambuk dan kloroplas yang berbentuk piala serta mengandung pirenoid. Sebelum membelah, pirenoid melebar melintang dan kedua bulu cambuknya saling berjauhan. Pirenoid dan kloroplas lalu mengadakan lekukan dan selnya akan membelah menjadi dua individu baru yang masing-masing dengan satu bulu cambuk disertai dengan pembentukan stigma. Agar lebih jelas, perhatikan Gambar 5.18!
Gambar 5.18 Euglena, pembelahan biner membujur
Gambar 5.18 Euglena, pembelahan biner membujur
Keterangan:
- a – c: inti membelah
- d – e: membran plasma menggenting
- f : terbentuk dua sel anak
b) Filum Pyrrophyta
Seperti tampak pada Gambar 5.19, Pyrrophyta disebut sebagai Dinoflagelata yang sering dikenal sebagai ganggang api. Mengapa disebut sebagai ganggang api? Dia mampu memancarkan cahaya yang berwarna merah menyala seperti api, terutama pada saat malam hari di air laut. Hampir seluruh Dinoflagelata uniseluler, yaitu tersusun atas satu sel dan bergerak aktif, yaitu memiliki satu flagel, mempunyai dinding sel nyata yang terdiri atas lempenganlempengan yang mengandung selulose, tetapi ada beberapa yang tidak berdinding sel, misalnya Gymnodinium. Ciri khas dari sel ini adalah di sebelah luar sel terdapat celah dan alur serta di dalam sel terdapat plastida yang mengandung klorofil dan karatinoid sehingga berwarna cokelat kekuning-kuningan.
Gambar 5.19 Dinoflagelata
Gambar 5.19 Dinoflagelata
Cara memperbanyak diri Pyrrophyta sama seperti Euglena, yaitu dengan membelah diri. Dinoflagelata hidup di air tawar maupun di air asin. Beberapa genus, misalnya Gonyaulax dapat dijumpai pertumbuhan yang blooming atau red tides (pasang merah) yang menyebabkan air pasang merah dan bersifat beracun di alam sekitar lautan. Beberapa speciesnya sering menghasilkan racun bagi ikan dalam jumlah yang besar, tetapi tidak pada kerangkerang yang hidup. Jika suatu saat Anda memakan kerang hendaknya berhati-hati sebab ada kerang yang terkena racun, bila ini kita makan kita bisa keracunan pula.
Berdasarkan penjelasan tentang Euglena ini, menurut pendapat Anda, apakah Dinoflagelata mempunyai arti penting bagi kita? Pikirkan!
c) Filum Chrysophyta
Chrysophyta sering dinamakan alga pirang atau alga keemasan karena mendapatkan warna dari karatinoid cokelat kuning yang disebut fukosantin dan juga memiliki klorofil a dan b; memiliki sel yang bersifat uniseluler dan banyak yang berflagel. Terdiri atas 5300 species, 5000 buah yang merupakan Diatom. Jadi, sebagian besar kelompok ini adalah Diatom. Bagaimana bentuk dari Diatom? Perhatikan Gambar 5.20 berikut ini!
Gambar 5.20 Bentuk-bentuk kerangka Diatom
Gambar 5.20 Bentuk-bentuk kerangka Diatom
Coba Anda perhatikan! Pada gambar di atas, Diatom mempunyai bentuk seperti kotak dan mempunyai dinding sel. Selnya tersusun atas dua belahan, yaitu wadah (hipoteka) dan tutup (epiteka). Apabila sel ini membelah, maka pada awalnya antara wadah dan tutup akan terpisah. Selanjutnya, masing-masing akan membentuk wadah dan tutupnya sendiri. Jadi, bagian tutup (epiteka) membentuk wadah baru (hipoteka) dan bagian wadah akan membentuk tutup baru dan mempunyai ukuran lebih kecil. Setelah terbentuk, jika selnya akan membelah lagi maka prosesnya sama, demikian seterusnya sampai lama kelamaan selnya berukuran sangat kecil sehingga tidak dapat untuk membelah lagi. Jika hal ini terjadi, maka isi sel akan keluar selanjutnya akan membentuk dinding sel baru yang berukuran normal. Reproduksi seksual dengan cara oogami seperti yang terlihat pada Gambar 5.21, amati dan pelajarilah!
Gambar 5.21 Reproduksi seksual oogami
Gambar 5.21 produksi seksual oogami
Apakah peranan Diatom dalam kehidupan alam? Diatom yang hidup di air tawar maupun lautan mempunyai bagian yang penting dalam kehidupan, yaitu sebagai sumber makanan bagi Protista tak berwarna atau hewan-hewan kecil sehingga dapat memperpanjang kehidupan organisme lainnya. Setelah mati, cangkangnya tidak akan hancur sehingga cangkang tersebut lama kelamaan akan menumpuk di dasar laut sampai berjuta-juta tahun lamanya sehingga dapat membentuk ‘tanah diatom’. “Tanah diatom” ini sangat berguna, antara lain sebagai agen penyaring untuk menjernihkan cairan, sebagai bahan tak tembus suara, bahan penggosok, bahan isolasi, bahan dasar kosmetik, dan penyekat dinamit. Coba Anda pikirkan jika satu sentimeter kubik tanah diatom mengandung 4,6 juta cangkang diatom, apabila dimanfaatkan menjadi berbagai produk seperti telah disebutkan, berapa banyak produk yang bisa dihasilkan? Tentu saja hal ini sangat berarti bagi perekonomian kita bukan?

Ciri-ciri Jamur

Ciri Morfologi Jamur - Jamur adalah organisme unik yang umumnya berbeda dari organisme eukariotik lain. Perbedaan jamur dapat kita lihat pada struktur tubuh dan cara hidupnya. Untuk mengetahui ciri-ciri jamur, kita akan mempelajari tentang struktur tubuh jamur, cara memperoleh makanan, dan cara berkembang biak (reproduksi) jamur. Bentuk jamur mirip dengan tumbuhan, tetapi tidak memiliki daun dan akar yang sejati, juga tidak mempunyai klorofil sehingga dia tidak dapat melakukan fotosintesis. Untuk itulah jamur digolongkan atau diklasifikasikan tersendiri karena tidak jamur dapat digolongkan dalam tumbuhan atau hewan. Dari hasil kegiatan yang Anda lakukan, Anda dapat mengetahui ternyata jenis jamur ada yang dapat dilihat secara langsung atau bentuknya makroskopis dan ada yang harus diamati menggunakan mikroskop karena bentuknya mikroskopis. Pada umumnya jamur mempunyai sel banyak (multiseluler) misalnya jamur merang dan jamur tempe, tetapi ada juga yang bersel tunggal (uniseluler) seperti ragi atau yeast/ Saccharomyces. Jamur yang multiseluler tersusun atas benang-benang yang disebut dengan hifa. Apabila dilihat dengan mikroskop tampak bentuk hifa ini bersekat-sekat (bersepta) dan tidak bersekat, seperti tampak pada Gambar 6.2!
Gambar 6.2 Hifa yang bersekat dan tidak bersekat
Gambar 6.2 Hifa yang bersekat dan tidak bersekat
Dari Gambar 6.2 tampak bahwa pada hifa yang bersekat, tiap sekat terdapat satu sel yang terdiri atas satu atau beberapa inti sel. Adapun pada hifa yang tidak bersekat, inti selnya tersebar di dalam sitoplasma yang disebut dengan sinositik. Seperti yang terlihat pada mikroskop, sel-sel jamur ini sudah memiliki membran inti sel, sehingga dikelompokkan sebagai organisme eukariotik. Dinding sel jamur ini terbuat dari kitin yang dapat memberikan bentuk dari sel-sel jamur. Jalinan/kumpulan hifa-hifa ini akan membentuk suatu miselium, dan miselium inilah yang tumbuh menyebar di atas substrat dan berfungsi sebagai penyerap makanan dari lingkungannya. Bagaimana cara jamur mendapatkan makanan? Seperti yang Anda lihat, karena jamur tidak mempunyai klorofil, jadi dia tidak dapat berfotosintesis, sehingga hidup secara heterotrof dengan memperoleh zat makanannya dengan cara menyerap dari lingkungannya atau substratnya. Tetapi makanannya yang masih berbentuk senyawa-senyawa kompleks akan diuraikan terlebih dahulu di luar sel jamur, yaitu dengan menghasilkan enzim-enzim hidrolitik ekstraseluler.
Makanan jamur bisa berasal dari sumber-sumber seperti tanah subur, produk makanan buatan pabrik, tubuh hewan atau tumbuhan, baik yang sudah mati (sebagai saprofit) atau yang masih hidup. Jamur yang hidup pada inang hidup dapat bersimbiosis mutualisme, yaitu dapat membantu tumbuhan memperoleh mineral dari tanah. Tetapi kebanyakan bersifat parasit, jamur ini memiliki haustorium, yaitu suatu hifa yang khusus digunakan untuk menyerap makanan dari inangnya.
Cara Bereproduksi Jamur. Secara alamiah, jamur dapat berkembang biak dengan dua cara, yaitu secara aseksual dan seksual. Secara aseksual dilakukan dengan pembelahan, yaitu dengan cara sel membagi diri untuk membentuk dua sel anak yang serupa, penguncupan, yaitu dengan cara sel anak yang tumbuh dari penonjolan kecil pada sel inangnya atau pembentukan spora. Spora aseksual ini berfungsi untuk menyebarkan speciesnya dalam jumlah yang besar dengan melalui perantara angin atau air.
Ada beberapa macam spora aseksual, di antaranya seperti berikut.
  1. Konidiospora, merupakan konidium yang terbentuk di ujung atau di sisi hifa. Ada yang berukuran kecil, bersel satu yang disebut mikrokonidium, sebaliknya konidium yang berukuran besar dan bersel banyak disebut makrokonidium.
  2. Sporangiospora, merupakan spora bersel satu yang terbentuk dalam kantung yang disebut sporangium, pada ujung hifa khusus.
Ada dua macam sporangiospora yang tidak bergerak (nonmotil) disebut aplanospora dan sporangiospora yang dapat bergerak karena mempunyai flagela yang disebut zoospora.
  1. Oidium/artrospora, yaitu spora bersel tunggal yang terbentuk karenaterputusnya sel-sel hifa.
  2. Klamidospora, merupakan spora bersel satu, berdinding tebal, dan sangat resisten terhadap keadaan yang buruk. Spora ini terbentuk dari sel-sel hifa yang somatik.
  3. Blatospora merupakan tunas/kuncup pada sel-sel khamir.
Perhatikan dan amati macam-macam spora aseksual pada Gambar 6.3!
Gambar 6.3 Jenis-jenis spora aseksual pada jamur
Gambar 6.3 Jenis-jenis spora aseksual pada jamur
Perkembangbiakan jamur secara seksual dilakukan dengan peleburan inti sel/nukleus dari dua sel induknya. Reproduksi secara seksual ini lebih jarang dilakukan dan jumlahnya lebih sedikit dibandingkan secara aseksual. Perkembangbiakan ini terjadi apabila berada dalam keadaan tertentu. Seperti halnya spora aseksual jamur, jenis spora seksual jamur pun bermacam-macam, yaitu sebagai berikut.
Macam-Macam Spora Seksual Jamur
1. Askospora Merupakan spora bersel satu yang terbentuk di dalam kantung yang dinamakan askus. Dalam setiap askus terdapat askospora.
2. Basidiospora Merupakan spora bersel satu yang terbentuk di atas struktur berbentuk gada yang dinamakan basidium.
3. Zygospora Merupakan spora besar berdinding tebal, terbentuk dari ujung-ujung dua hifa yang serasi yang dinamakan gametangia.
4. Oospora Merupakan spora yang terbentuk dari pertemuan antara gamet betina (oogonium) dan gamet jantan (anteridium), sehingga akan terjadi pembuahan (oosfer) dan akan menghasilkan oospora.
Perhatikan macam-macam spora seksual pada Gambar 6.4 berikut!
Gambar 6.4 Jenis-jenis spora seksual
Gambar 6.4 Jenis-jenis spora seksual
Ciri Fisiologi Jamur. Cobalah Anda amati makanan seperti selai atau manisan yang sudah basi! Apabila sudah basi, sering makanan itu terlihat berwarna kehitaman, warna itu merupakan jamur yang merusak, bukan bakteri. Dengan demikian, dapat diketahui jamur lebih tahan hidup dalam keadaan alam sekitar yang tidak menguntungkan dibandingkan dengan jasad-jasad renik lainnya. Jamur dapat tumbuh pada suhu yang luas dari suhu yang mendekati 0°C sampai 37°C.
Simbiosis Antara Jamur dengan Makhluk Hidup Lain. Tahukah Anda bahwa jamur bisa hidup bersimbiosis dengan akar tumbuh-tumbuhan dan ganggang/alga? Pernahkah Anda melihat lumut kerak dan pohon pinus atau melinjo yang ditemukan banyak jamur berbentuk payung, namun keduanya hidup sangat subur? Untuk mengetahuinya lebih lanjut, pelajarilah uraian berikut dengan baik!
Mikoriza. Pohon pinus dapat hidup dengan subur karena terjadinya simbiosis antara jamur melalui hifanya yang masuk dalam akar tanaman pinus. Pinus akan mendapatkan air serta unsur-unsur hara dan jamur tersebut akan mendapatkan zat organiknya. Jamur ini dinamakan mikoriza. Jamur yang membentuknya biasanya dari golongan Zygomycota, Ascomycota, dan Basidiomycota. Bagaimana struktur dari mikoriza ini? Ada dua jenis Mikoriza, yaitu pada akar pinus merupakan ektomikoriza dan endomikoriza pada akar kacang. Perhatikan Gambar 6.14 ini!
Gambar 6.14 (a) Ektomikoriza (b) Endomikoriza
Gambar 6.14 (a) Ektomikoriza (b) Endomikoriza
Pada ektomikoriza, terlihat hifanya tidak menembus di dalam akar (korteks), tetapi hanya sampai pada epidermis saja. Adanya jamur ini, akar sudah tidak memerlukan bulu akar, tetapi tanaman tersebut sudah mendapatkan air dan unsur hara lebih dari cukup berkat jamur ini. Karena itulah tumbuhan ini tahan terhadap kekeringan dan terlindung dari serangan jamur lain yang berbahaya. Jamur ini tidak dapat tumbuh dan bereproduksi tanpa menggunakan akar inangnya. Adapun pada endomikoriza, hifanya akan menembus akar sampai ke bagian korteks. Jamur ini selain terdapat pada akar polong-polongan juga dapat hidup di akar anggrek, akar sayuran seperti kol. Kebalikan dari ektomikoriza, jamur ini mampu hidup tanpa ada inangnya. Hidupnya di mana-mana, asalkan pada tanah. Manfaatnya sama dengan ektomikoriza, selain itu dapat pula membantu pertumbuhan bintil akar untuk fiksasi nitrogen.
Lumut Kerak (Lichenes). Pernahkah Anda melihat lumut kerak yang menempel pada pohon dan berwarna keperakan? Sepintas, terlihat seperti organisme tunggal dan seperti species lumut. Bentuknya berupa lembaran tipis seperti kerak. Sebenarnya lumut kerak ini merupakan gabungan miselium jamur yang di dalamnya terjalin sel-sel alga dan keduanya saling bersimbiosis mutualisme. Jamurnya adalah golongan Ascomycota atau Basidiomycota dengan alga hijau/Chlorophyta atau alga biru/Cyanophyta yang uniseluler.
Gambar 6.15 Lumut kerak pada batu
Gambar 6.15 Lumut kerak pada batu
Ada sekitar 18.000 species Lichenes yang sudah diidentifikasi. Lichenes ini mampu hidup pada lingkungan yang kurang baik, dapat ditemukan di bebatuan. Bagaimana hubungan kedua organisme tersebut sehingga dapat tumbuh menjadi Lichenes? Coba ingat kembali materi tentang alga! Alga mempunyai klorofil sehingga dia mampu melakukan fotosintesis yang akan menghasilkan makanan. Selanjutnya, makanan tersebut digunakan oleh jamur untuk hidup dan tumbuh. Jamur melalui hifa-hifanya dapat menyerap dan menyimpan air dan mineral yang juga akan digunakan oleh alga. Jadi, keduanya saling membutuhkan.
Meskipun keduanya hidup sendiri-sendiri, tetapi dengan hidup pada lumut kerak lebih menguntungkan bagi keduanya, karena mereka mampu hidup pada substrat atau tempat yang organisme lain tidak dapat hidup, misalnya batu. Karena mampu hidup pada batu-batuan, Lichenes ini dikatakan sebagai organisme perintis yang mampu hidup di atas batu. Lichenes tersebut memulai pembentukan tanah dengan melapukkan permukaan batuan dan menambahkan kandungan zat-zat yang dimiliknya.
Lichenes dapat juga digunakan sebagai indikator pencemaran udara, karena dia tidak mampu hidup pada udara yang sudah tercemar. Jadi, apabila di suatu daerah tidak ada Lichenes, ini menunjukkan bahwa udara di daerah tersebut sudah tercemar. Selain itu, Lichenes dapat dimanfaatkan pula sebagai obat, digunakan sebagai penambah rasa dan aroma, serta pigmen yang dihasilkan dapat dibuat kertas lakmus celup untuk menentukan indikator pH.
Berapa banyakkah jenis lumut kerak yang dapat kita temukan? Lumut kerak yang talusnya seperti kerak dan melekat erat substratnya dinamakan krustosa, misalnya Physcia. Jika talusnya berbentuk seperti daun dinamakan foliosa, misalnya Parmelia. Jika bentuk talusnya tegak seperti semak atau mengantung seperti pita/jumbai dinamakan fruktikosa, misalnya Usnea (lumut janggut) yang melekat pada pucuk pohon di daerah pegunungan. Sejak dahulu, Usnea dimanfaatkan sebagai obat tradisional karena mengandung asam usnin, yang merupakan bahan antibiotik. Agar lebih jelas, amatilah Gambar 6.16!
Gambar 6.16 Beberapa jenis lumut kerak
Gambar 6.16 Beberapa jenis lumut kerak
Lichenes memperbanyak diri secara aseksual dan seksual. Secara aseksual dilakukan dengan cara fragmentasi, yaitu dengan potongan lumut kerak, maka induk akan terlepas. Apabila jatuh di tempat yang cocok akan tumbuh menjadi individu baru. Dapat juga dilakukan dengan membuat struktur khusus yang disebut soredia, yaitu sel-sel alga yang terbungkus oleh hifa, terdapat pada permukaan talus Lichenes, warnanya putih seperti tepung. Sel-sel alga ini dapat terlepas, jika jatuh pada tempat yang cocok, maka akan tumbuh menjadi Lichenes baru. Adapun perkembangbiakan jamur dan alga secara seksual dilakukan sendiri-sendiri. Jamur dapat membentuk askokarp atau basidiokarp yang mengandung spora. Jika sporanya masak akan pecah dan terlepas kemudian dibawa angin. Jika jatuh di tempat yang cocok dan bertemu dengan alga, maka akan terbentuk Lichenes.

Plathyhelminthes (Cacing Pipih) dan Ciri-cirinya

Plathyhelminthes (Cacing Pipih) dan Ciri-cirinya- Coba carilah hewan cacing, kemudian amati bentuk tubuhnya! Jika kita memegangnya, tubuh cacing akan terasa lunak, tak bercangkang, dan bila cacing tersebut dipotong menjadi dua, maka akan terbentuk dua potongan yang sama, yaitu kiri dan kanan yang disebut simetris bilateral. Cacing ini hidup sebagai parasit pada organisme lain. Hewan ini termasuk triplobastik, yaitu memiliki tiga lapisan kulit, di antaranya adalah ektoderm, yaitu lapisan luar yang akan berkembang menjadi kulit, mesoderm, yaitu lapisan tengah yang akan menjadi otot-otot dan beberapa organ tubuh, ektoderma yaitu lapisan luar yang akan menjadi usus dan alat pencernaan.
Tahukah Anda sebenarnya cacing mempunyai berbagai bentuk dan rongga tubuh. Cacing ini dibagi menjadi tiga kelompok. Salah satunya adalah cacing berbentuk pipih yang sering dinamakan Plathyhelminthes (plathy = pipih, helminthes = cacing). Sesuai dengan namanya, karena Plathyhelminthes belum mempunyai rongga tubuh (selomata) sehingga bentuknya pipih seperti daun/pita. Di manakah kita mendapatkan cacing pipih? Cacing pipih dapat hidup di daerah sungai yang jernih dan di balik bebatuan, di air laut pun cacing ini juga bisa hidup.
1) Ciri-Ciri Umum Plathyhelminthes. Bentuk kepalanya segitiga dan terdapat dua bintik mata yang peka terhadap cahaya yang sering disebut oseli, panjangnya sekitar 2-3 cm. Bagian tubuhnya dibagi menjadi bagian kepala (anterior), ekor (posterior), bagian punggung (dorsal), bagian perut (ventral), dan bagian samping (lateral).
Gambar 8.17 Bermacam-macam cacing pipihGambar 8.17 macam-macam cacing pipih
Pada saat Anda mengambil cacing tersebut, maka tampak hewan ini mengeluarkan lapisan lendir yang licin di bawah tubuhnya. Bagaimana gerakan tubuhnya? Cacing tersebut akan bergerak dengan cepat ke depan di atas lendir dengan cara menggerak-gerakkan sejumlah besar silia yang ada di permukaan ventral. Silia ini akan hilang pada waktu dewasa dan mempunyai alat kait untuk menempel dan alat pengisap. Apabila terapung di air, maka akan berenang dengan gerakan tubuh yang mengombak, yang sangat memungkinkan untuk mencari makan secara aktif. Karena mempunyai mulut, maka makanan masuk dalam mulut di permukaan ventral menuju ke rongga gastrovaskular yang terletak di tengah tubuhnya yang terdapat usus-usus bercabang-cabang membentuk saluran-saluran ke seluruh tubuhnya, sehingga usus tersebut dapat berfungsi untuk mencerna makanan sekaligus untuk mengedarkannya. Karena cacing ini tidak mempunyai lubang anus, maka sisa makanannya keluar melalui lubang yang menjadi jalan masuknya makanan.
Gambar 8.18 Struktur tubuh cacing pipih Gambar 8.18 Struktur tubuh cacing pipih
Sama seperti Coelenterata, masuknya oksigen dan keluarnya karbon dioksida pada Plathyhelminthes melalui permukaan tubuhnya. Adapun sistem sarafnya karena sudah mempunyai kepala sehingga mempunyai sistem saraf pusat, yaitu mempunyai ganglion otak berjumlah sepasang yang dihubungkan dengan serabut saraf menyerupai tangga yang terbuat dari tali dan dikenal dengan sistem saraf tangga tali.
2) Perkembangbiakan Plathyhelminthes. Anda sudah membuktikan bahwa cacing ini ternyata mempunyai daya regenerasi sangat tinggi, yaitu dengan cara membelah diri. Cara demikian merupakan cara reproduksi secara aseksual. Pembelahan tubuh dimulai dengan penggentingan di belakang faring dan memisah menjadi dua hewan. Dapat juga apabila dari satu individu dipotong menjadi beberapa bagian, maka setiap bagiannya akan mampu membentuk individu baru.
Gambar 8.19 Perkembangbiakan aseksual PlatyhelminthesGambar 8.19 Perkembangbiakan aseksual Platyhelminthes
Selain secara aseksual, cacing ini dapat pula berkembang biak secara seksual karena hewan ini pada umumnya bersifat hemaprodit (satu individu mempunyai dua alat kelamin), tetapi akan terjadi perkawinan silang.
3) Jenis-Jenis Cacing Plathyhelminthes. Cacing ini dibagi menjadi tiga kelas, yaitu Turbellaria, Trematoda, dan Cestoda.
a) Turbellaria. Kelompok cacing Turbellaria adalah cacing yang hidup bebas dan bergerak dengan bulu getarnya, contohnya Planaria. Cacing ini dapat digunakan sebagai indikator biologis kemurnian air. Apabila dalam suatu perairan banyak terdapat cacing ini, berarti air tersebut belum tercemar karena cacing ini hanya dapat hidup di air yang jernih, sehingga apabila air tersebut tercemar maka cacing ini akan mati.
b) Trematoda. Jenis cacing Trematoda hidup sebagai parasit pada hewan dan manusia. Tubuhnya dilapisi dengan kutikula untuk menjaga agar tubuhnya tidak tercerna oleh inangnya dan mempunyai alat pengisap dan alat kait untuk melekatkan diri pada inangnya. Contoh anggota Trematoda adalah Fasciola hepatica (cacing hati). Cacing ini hidup di hati ternak kambing, biri-biri, sapi, dan kerbau.
(1) Fasciola hepatica. Bentuk dari cacing ini sama dengan cacing pipih lainnya, yaitu seperti daun.
Gambar 8.20 Cacing hati (Fasciola hepatica)Gambar 8.20 Cacing hati (Fasciola hepatica)
Cacing hati mempunyai ukuran panjang 2,5–3 cm dan lebar 1–1,5 cm. Pada bagian depan terdapat mulut meruncing yang dikelilingi oleh alat pengisap, dan ada sebuah alat pengisap yang terdapat di sebelah ventral sedikit di belakang mulut, juga terdapat alat kelamin. Bagian tubuhnya ditutupi oleh sisik kecil dari kutikula sebagai pelindung tubuhnya dan membantu saat bergerak. Cacing ini tidak mempunyai anus dan alat ekskresinya berupa sel api. Bagaimana daur hidup cacing ini sehingga dapat mencapai hati makhluk hidup?
Gambar 8.21 Daur hidup Fasciola hepaticaGambar 8.21 Daur hidup Fasciola hepatica
Cacing ini bersifat hemaprodit, berkembang biak dengan cara pembuahan sendiri atau silang, jumlah telur yang dihasilkan sekitar 500.000 butir. Karena jumlah telurnya sangat banyak, maka akan keluar dari tubuh ternak melalui saluran empedu atau usus bercampur kotoran. Jika ternak tersebut mengeluarkan kotoran, maka telurnya juga akan keluar, jika berada di tempat yang basah, maka akan menjadi larva bersilia yang disebut mirasidium. Larva tersebut akan berenang, apabila bertemu dengan siput Lymnea auricularis akan menempel pada mantel siput. Di dalam tubuh siput, silia sudah tidak berguna lagi dan berubah menjadi sporokista. Sporokista dapat menghasilkan larva lain secara partenogenesis yang disebut redia yang juga mengalami partenogensis membentuk serkaria.
Setelah terbentuk serkaria, maka akan meninggalkan tubuh siput dan akan berenang sehingga dapat menempel pada rumput sekitar kolam/sawah. Apabila keadaan lingkungan tidak baik, misalnya kering maka kulitnya akan menebal dan akan berubah menjadi metaserkaria. Pada saat ternak makan rumput yang mengandung metaserkaria, maka sista akan menetas di usus ternak dan akan menerobos ke dalam hati ternak dan berkembang menjadi cacing muda, demikian seterusnya.
(2) Schystosoma japonicum. Cacing ini sering disebut cacing darah karena hidup di dalam pembuluh darah balik atau vena pada manusia, kucing, babi, sapi, biri-biri, anjing, dan binatang pengerat. Banyak dijumpai di daerah Sulawesi.
Gambar 8.22 (a) Bentuk cacing darah (b) Daur hidup cacing darah Gambar 8.22 (a) Bentuk cacing darah (b) Daur hidup cacing darah
Ukuran cacing jantan lebih besar daripada cacing betina. Tampak tubuh cacing jantan melipat menutupi tubuh cacing betina yang lebih ramping. Jika cacing ini menulari manusia, maka akan menyebabkan penyakit schistosomosis yang menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat terbesar di Asia dan Afrika. Seseorang yang menderita penyakit ini akan mengalami kerusakan hati, kelainan jantung, limpa, ginjal, dan kantung kemih. Daur hidup cacing ini hampir sama dengan cacing hati. Telur yang dihasilkan akan keluar dari tubuh inang, kemudian akan ikut bersama kotoran dan menetas di dalam air. Oleh sebab itulah hendaklah kita minum air yang telah direbus sampai matang agar terbebas dari telur cacing ini.
(3) Clonorchis. Cacing Clonorchis hidup dalam hati manusia, daur hidupnya hampir sama dengan Fasciola, hanya inang perantaranya adalah ikan air tawar. Untuk menghindari penyakit ini, masaklah ikan air tawar secara sempurna karena jika terkena penyakit ini akan menyebabkan kerusakan hati yang dapat menyebabkan kematian.
c) Cestoda. Cacing ini dikenal sebagai cacing pita. Seperti cacing hati, cacing pita bersifat sebagai parasit pada hewan dan manusia, jumlahnya sekitar 1500 species. Cacing ini membentuk koloni seperti pita sehingga panjangnya bisa mencapai 20 m atau lebih. Tubuh kita dapat dimasuki cacing ini apabila kita memakan ikan, daging sapi, anjing, atau babi yang tidak matang. Jenis yang terkenal adalah Taenia saginata (inangnya hewan sapi) dan Taenia solium (inangnya hewan babi). Kulit Cestoda dilapisi kitin dan bagian tubuhnya terdiri atas kepala (skoleks) yang berukuran sekitar 1 mm, yang terdiri dari 4 alat pengisap. Bentuk tubuhnya terdiri atas segmen-segmen yang disebut dengan proglotid. Cacing ini tidak mempunyai saluran pencernaan. Apabila memperoleh makanan akan masuk ke dalam proglotid dengan cara diserap (diabsorbsi) dan sistem saraf tidak berkembang. Setiap proglotid mampu bernapas dan bereproduksi. Seperti cacing yang lain, cacing ini bersifat hemaprodit. Semakin ke arah belakang, ukuran proglotid semakin besar dan dewasa, dan pada bagian akhir/ujung berisi telur.
Gambar 8.23 Proglotid cacing pitaGambar 8.23 Proglotid cacing pita
Perhatikan pula daur hidup cacing pita pada Gambar 8.24!
Gambar 8.24 Daur hidup cacing pitaGambar 8.24 Daur hidup cacing pita
Daur hidup cacing pita dimulai dari terlepasnya proglotid tua yang bersama feses akan keluar dari tubuh manusia. Tiap proglotid berisi ribuan telur. Tiap ruas pada proglotid akan hancur sehingga telur yang telah dibuahi akan tersebar di mana-mana. Telur akan berkembang menjadi zigot kemudian tumbuh menjadi larva onkosfer di dalam kulit telur. Apabila tertelan oleh babi maka akan masuk dan dicerna oleh usus. Selanjutnya, larva tersebut akan menembus pada pembuluh darah, pembuluh limfe, dan akhirnya akan masuk pada otot lurik. Di sinilah larva tersebut berubah menjadi kista yang makin lama makin membesar sehingga akan terbentuk cacing gelembung (sistiserkus). Selanjutnya, dinding sistiserkus akan tumbuh menjadi skoleks.
Apabila seseorang makan daging babi yang belum matang, kemungkinan besar sistiserkusnya masih hidup sehingga di dalam usus manusia sistiserkus akan tumbuh menjadi skoleks, dan menempel pada dinding usus. Dari leher skoleks, akan muncul proglotid yang semakin lama semakin bertambah banyak dan ukurannya semakin bertambah panjang. Proglotid pada bagian akhir kemudian akan meloloskan diri dan keluar bersama feses manusia, demikian seterusnya. Contoh di atas merupakan daur hidup pada Taenia solium dengan perantara babi, contoh perantara yang lain adalah sapi dengan melalui jenis cacing Taenia saginata. Perbedaan Taenia saginata dengan Taenia solium, yaitu hanya pada skoleksnya yang tidak mempunyai kait, cacing ini juga mudah diberantas.