Rabu, 06 Maret 2013

Tahapan Penciptaan Manusia menurut Al - Quran

Allah mengutus Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai utusan untuk seluruh alam semesta. Allah berfirman di dalam Qur’an :

“Dan tidaklah kami mengutusmu melainkan, melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.” (al-Anbiya’ 21 : 107).

Demikianlah, Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah utusan Allah untuk masyarakat Badui di gurun pasir sebagaimana beliau pula adalah utusan Allah bagi para saintis hari ini di laboratorium modernnya. Beliau adalah utusan Allah kepada seluruh manusia untuk segala zaman. Sebelum Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, tiap Rasul diutus khusus untuk kaumnya:

“Dan bagi tiap-tiap kaum ada yang memberi petunjuk” (QS ar-Ra’du 13 : 7).

‘Risalah’ Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, biar bagaimanapun, adalah untuk seluruh manusia, dan untuk alasan inilah Allah memberikan bukti bagi ‘Risalah’ Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, sebuah bukti yang berbeda dengan bukti-bukti yang diberikan kepada rasul-rasul sebelumnya.

Bukti-bukti rasul terdahulu hanya dapat dilihat oleh orang-orang semasanya, yang didukung dengan mukjizat, untuk menyadarkan keimanan kaumnya. Namun, karena Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam ditakdirkan untuk menjadi Nabi terakhir hingga hari pembalasan, Allah menganugerahkan kepada beliau mukjizat abadi sebagai bukti kenabiannya.

Jika kita bertanya kepada orang yahudi atau kristen untuk menunjukkan mukjizat Nabi Musa atau Isa, alaihima as-Salam, mereka akan menyampaikan bahwa tidak ada kuasa bagi manusia untuk meredemonstrasikan kembali mukjizat-mukjizat itu lagi sekarang.

Tongkat Musa takkan bisa diciptakan lagi demikian halnya Isa takkan bisa lagi dimintai tolong untuk membangkitkan manusia dari kematian. Bagi kita, pada hari ini, mukjizat-mukjizat ini tiada lain hanyalah beita sejarah. Namun jika seorang Muslim ditanya mengenai mukjizat terbesar Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, dia dapat secara langsung menunjukkannya, yakni al-Qur’an. Al-Qur’an adalah mukjizat yang ada pada kita hingga saat ini. Al-Qur’an adalah kitab yang terbuka bagi siapa saja untuk memeriksa isinya.
Allah berfirman di dalam al-Qur’an :

“Katakanlah: Siapakah yang lebih kuat persaksiannya? Katakanlah, Allah, Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Dan al-Qur’an diwahyukam kepadamu supaya dengannya aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai al-Qur’an kepadanya.” (QS al-An’am 6 : 19)

Sifat al-Qur’an yang menakjubkan terbaring pada ilmu pengetahuan yang dikandungnya, Allah yang Maha Agung berfirman, “Tetapi Allah mengakui al-Qur’an yang diturunkan-Nya kepadamu. Allah menurunkan dengan ilmu-Nya, dan malaikatpun menjadi saksinya” (QS an-Nisaa’ 4 : 166)

Oleh karena itu, para saintis dan pelajar kontemporer kita, profesor dari segala universitas yang menjadi pemimpin pengetahuan manusia, memiliki kesempatan untuk memeriksa pengetahuan yang ditemukan di dalam Kitabullah. Pada saat ini, para saintis telah mengungguli di dalam penemuan alam semesta, walaupun al-Qur’an telah mendiskusikan alam semesta dan perkembnagan manusia jauh sebelumnya. Jadi, apakah hasilnya?

Kita menghadirkan Profesor Emeritus Keith Moore, salah seorang saintis anatomi dan embriologi terkemuka di dunia. Kita pernah bertanya pada Profesor Moore untuk memberikan kepada kita analisis saintifiknya bekenaan ayat-ayat spesifik di al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi yang menyinggung/berkenaan dengan bidang spesialisasinya.

Profesor Moore adalah penulis sebuah buku yang berjudul “The Developing Human”. Beliau adalah Profesor Emeritus Anatomi dan Biologi Sel pada Universitas Toronto, Kanada, dimana beliau pernah menjadi Kepala Dekan Sains Dasar di Fakultas kedokteran dan selama 8 tahun beliau menjadi Kepala Departemen Anatomi. Dr. Moore sebelumnya juga mengajar di Universitas Winnipeg, Kanada selama 11 tahun.

Beliau telah mengepalai banyak asosiasi internasional anatomis dan dewan Persatuan Sains Biologi. Profesoor Moore juga pernah terpilih menjadi anggota Royal Medical Association di Kanada, di Akademi Sitologi Internasional, Perhimpunan Anatomis Amerika dan Perhimpunan Anatomis Amerika Utara dan Selatan. Tahun 1984, beliau menerima penghargaan istimewa di bidang anatomi di Kanada, yaitu J.C.B. Grant Award dari Asosiasi Anatomis Kanada.

Beliau telah mempublikasikan banyak buku pada bidang ilmu kesehatan anatomi dan embriologi, delapan diantara buku-bukunya digunakan sebagai referensi di sekolah-sekolah kedokteran dan telah diterjemahkan ke dalam 6 bahasa.

Ketika kita minta beliau untuk memberikan analisanya terhadap ayat-ayat Qur’an dan pernyataan Nabi, beliau tercengang. Ia bertanya-tanya, bagaimana mungkin Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, 14 abad yang lalu, dapat memaparkan embrio dan fase perkembangannya secara mendetail dan akurat, dimana para saintis telah mengetahuinya hanya pada akhir abad ketiga belas.

Biar bagiamanapun, dengan sangat cepat ketakjuban Profesor Moore tumbuh menjadi kekaguman terhadap wahyu dan bimbingan ini. Beliau memperkenalkan pandangan-pandangan ini ke dalam intelektualitas dan siklus saintifis. Beliau juga memberikan kuliah terhadap kesesuaian modern embriologi dengan al-Qur’an dan as-Sunnah, dimana beliau menyatakan :

“Sungguh menyenangkan sekali bagiku untuk membantu menjelaskan pernyataan mengenai perkembangan manusia di dalam al-Qur’an. Sangat jelas bagiku bahwa pernyataan-pernyataan ini pasti datang kepada Muhammad dari Allah, karena hampir seluruh pengetahuan ini belum diketemukan hingga beberapa abad kemudian. Hal ini membuktikan kepadaku bahwa Muhammad pasti adalah seorang utusan Allah.”

Mempertimbangkan bahwa saintis embriologi terkemuka dan terhormat ini telah menyatakan studinya mengenai ayat-ayat al-Qur’an yang berkenaan dengan disiplin ilmunya, dan beliau berkesimpulan bahwa Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam pastilah seorang utusan Allah.

Allah berfirman di dalam al-Qur’an berkenaan tahap-tahap penciptaan manusia : “Wa laqod kholaqnaa al-insaana min sulaalatin min thiin, tsumma ja’alnaahu nuthfatan fii qoroorin makiin, tsumma kholaqnaa an-Nuthfata ‘alaqotan fakholaqnaa al-‘alaqota mudghotan fa kholaqnaa al-mudghota ‘idhooman fakasawnaa al-‘idhooma lahmaan tsumma ansya’naahu kholqon aakhor = Dan sesungguhnya Kami telah menjadikan manusia dari sulaalatin min thiin (suatu saripati dari tanah), kemudian kami jadikan nuthfah (saripati/sperma) itu dalam qoroorin makiin (tempat yang kokoh/rahim), kemudian kami jadikan nuthfah itu ‘alaqoh (segumpal darah), lalu ‘alaqoh itu kami jadikan mudghoh (segumpal daging), lalu mudghoh itu kami jadikan ‘idhooma (tulang belulang) lalu ‘idhooma itu kami bungkus dengan lahma (daging/otot), kemudian Kami jadikan dia makhluk yang lain.” (QS. Al-Mu’minuun 23 : 12-14).

Kata ‘alaqoh memiliki 3 makna, makna pertama adalah ‘lintah’, makna kedua adalah ‘sesuatu yang tergantung’ dan makna yang ketiga adalah ‘segumpal darah’.

Ketika membandingkan lintah air tawar dengan embrio pada tahap ‘alaqoh, Profesor Moore menemukan kesamaan yang banyak pada keduanya. Beliau berkesimpulan bahwa embrio selama tahap ‘alaqoh mendapatkan penampakan yang sangat mirip dengan lintah. Profesor Moore lantas menempatkan sebuah gambar embrio dan lintah bersebelahan (lihat gambar 1). beliau mempresentasikan gambar-gambar tersebut di hadapan para saintis pada beberapa konferensi.

Arti kedua dari ‘alaqoh adalah ‘sesuatu yang tergantung’, dan hal ini adalah apa yang dapat kita lihat pada penempelan embrio di uterus/rahim selama tahap ‘alaqoh. Arti ketiga adalah ‘segumpal darah’. Hal ini signifikan untuk mengamati, sebagaimana pernyataan Profesor Moore, bahwa embrio selama tahap ‘alaqoh mengalami peristiwa internal yang sudah ma’lum, seperti pembentukan darah pada pembuluh tertutup, sampai siklus metabolisme selesai di plasenta.

Selama tahap ‘alaqoh, darah ditangkap di dalam pembuluh tertutup dan inilah alasan mengapa embrio memiliki penampakan seperti gumpalan darah, sebagai tambahan dari penampakan seperti lintah. Kedua deskripsi tersebut secara mengagumkan disodorkan oleh satu kata ‘alaqoh dalam Qur’an.

Bagaimana bisa Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam mengetahui dengan sendirinya? Prof Moore juga mempelajari embrio dalam tahap Mudghah (substansi mirip hasil kunyahan). Beliau mengambil beberapa potong tanah liat kasar dan mengunyahnya di dalam mulutnya, kemudian membandingkannya dengan gambar embrio pada tahap mudghoh.

Prof Moore berkesimpulan bahwa embrio pada tahap mudghoh memiliki bentuk yang sangat mirip dengan substansi seperti kunyahan (gambar 2). Beberapa buletin ilmiah bulanan Kanada mempublikasikan banyak pernyataan Prof Moore.

Sebagai tambahan, beliau menampilkannya di tiga program televisi dimana beliau menyoroti kesesuaian sains modern dengan apa-apa yang dikandung oleh al-Qur’an sejak 1400 tahun yang lalu. Oleh karenanya, beliau ditanya dengan pertanyaan berikut, “Apakah dengan demikian ini anda mengimani bahwa al-Qur’an adalah perkataan Allah?” beliau menjawab: “Aku tak menemukan musykilah untuk menerimanya”, kemudian beliau ditanya lagi, “Bagaimana bisa anda mengimani Muhammad sedangkan anda juga mengimani Yesus Kristus? Beliau menjawab, “Aku yakin mereka berdua berasal dari pembinaan yang sama.”


Jadi para saintis modern di seluruh penjuru dunia hari ini dapat mengetahui bahwa al-Qur’an telah dinyatakan berasal dari pengetahuan ilmu Allah. Sebagaimana Allah yang maha besar berfirman kepada kita, “Tetapi Allah mengakui al-Qur’an yang diturunkannya kepadamu (wahai Muhammad), Allah menurunkannya dengan ilmu-Nya.” (QS 4:166)

Hal ini juga seharusnya diikuti oleh saintis modern saat ini untuk tidak memiliki kesulitan di dalam mengakui Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai utusan Allah.

Buku “The Developing Human” yang ditulis oleh Prof Keith Moore telah diterjemahkan ke dalam 8 bahasa. Buku ini telah menjadi buku referensi, dan dipilih oleh komite khusus di Amerika Serikat sebagai buku terbaik yang ditulis secara individu. Kami bertemu dengan penulis buku ini dan menghadirkan pada beliau beberapa ayat al-Qur’an dan hadits Rasulullah yang berhubungan dengan spesialisasinya di embriologi.

Prof Moore diyakinkan dengan bukti-bukti kami, jadi kami menanyakan padanya beberapa pertanyaan berikut: “Anda menyebutkan di dalam buku anda bahwa pada abad pertengahan tidak ada kemajuan sains di bidang embriologi, dan hanya sedikit sekali yang benar-benar diketahui saat itu. Pada saat yang sama saat itu al-Qur’an sedang diwahyukan kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, dan dia membimbing manusia kepada apa yang Allah wahyukan kepadanya.

Ditemukan di dalam al-Qur’an deskripsi secara mendetail mengenai penciptaan manusia dan perkembangan tahapan manusia yang berbeda. Anda adalah saintis termasyhur di dunia saat ini, jadi mengapa anda tidak menegakkan keadilan dan menyebutkan kebenaran-kebenaran ini di dalam buku anda?”, beliau menjawab: “Anda memiliki buktinya namun aku tidak. Kenapa tak kau tunjukkan kepada kami?” Kemudian kami tunjukkan kepadanya fakta-fakta dan Prof Moore membuktikannya dirinya sebagai ilmuwan yang hebat. Pada edisi ketiga bukunya, beliau memberikan beberapa tambahan.

Bukunya telah diterjemahkan, sebagaimana telah kami jelaskan di atas, ke dalam 8 bahasa termasuk Rusia, Cina, Jepang, Jerman, Italia, Portugis dan Yugoslavia. Buku ini memiliki distribusi sedunia dan dibaca oleh saintis terkenal sedunia.

Prof Moore menyatakan di dalam bukunya mengenai abad pertengahan sebagai berikut, “Pertumbuhan sains sangat lemah selama periode pertengahan, dan sangat sedikit investigasi embriologi yang dikerjakan selama masa ini dan ini ma’lum bagi kita. Disebutkan di al-Qur’an, kitab suci ummat muslim, bahwa manusia dihasilkan dari sekresi pria dan wanita yang bercampur.

Beberapa perujukan dibuat tentang penciptaan manusia sejak dari setetes sperma, dan hal ini juga menunjukkan bahwa organisme yang terbentuk bertempat di tubuh wanita seperti sebuah biji/benih, 6 hari setelah permulaannya (blastocyst manusia mulai tertanam sekitar 6 hari setelah fertilisasi. Lihat gambar 3)”

“al-Qur’an juga menyatakan bahwa tetesan sperma berkembang menjadi gumpalan darah yang membeku/didih. (sebuah blastocyst yang tertanam atau gagal/gugur secara spontan berbentuk seperti didih/darah yang membeku). Perujukan juga menunjukkan penampakan embrio seperti lintah. Embrio menyerupai seekor lintah, atau penghisap darah, pada penampakannya. Embrio juga dikatakan menyerupai substansi yang dikunyah seperti getah atau kayu.


“Emrio yang sedang berkembang disadari akan menjadi manusia sekitar 40-42 hari dan tidak lagi mirip embrio hewan pada tahap ini. (lihat gambar 4.3). (Embrio manusia mulai memiliki karakteristik manusia pada tahap ini). Al-Qur’an juga menyatakan bahwa embrio berkembang di dalam tiga kegelapan.

Hal ini kemungkinan besar merujuk kepada (1) dinding anterior abdominal ibu, (2) dinding uterus, dan (3) membran amniokorion. (Lihat gambar 6) ruang di sini tidak memungkinkan untuk mendiskusikan lebih jauh beberapa perujukan yang menarik mengenai perkembangan prenatal manusia yang ada di al-Qur’an.”

Ini adalah apa yang telah ditulis oleh Dr. Moore di dalam bukunya, Alhamdulillah, yang sekarang ini sedang didistribusikan ke seluruh dunia. Pengetahuan saintifis menyebabkan Prof Mooe memiliki wewenang untuk menyebutkan hal ini di dalam bukunya.

Beliau telah berkonklusi bahwa klasifikasi modern tentang tahap perkembangan embrionik, yang telah diadopsi di seluruh dunia, tidaklah mudah ataupun komprehensif. Hal ini tidaklah memberikan kontribusi terhadap pemahaman mengenai tahapan perkembangan embrionik karena tahap-tahap tersebut berdasarkan bentuk numerik, yaitu, tahap 1, tahap 2, tahap 3, dst. Pembelahan yang telah disebutkan di dalam al-Qur’an tidaklah bergantung pada sistem numerik.

Lebih jauh pembelahan yang ada di Qur’an berdasarkan pada pengidentifikasian bentuk dan ukuran yang terang dan mudah perkembangan embrio yang terjadi.

Al-Qur’an mengeidentifikasikan tahapan perkembangan prenatal sebagai berikut:

- Nuthfah, yang berarti “setetes” atau “sejumlah kecil air”
- ‘Alaqoh yang berarti “struktur seperti lintah”
- Mudghah yang berarti “struktur bekas kunyahan”
- ‘Idhaam yang berarti “tulang” atau “rangka”
- Kisaa al-‘Idham bil laham, yang bermakna membungkus tulang dengan daging atau otot.
- An-Nasy’a yang berarti “formasi/pembentukan fetus yang sudah jelas”

Prof Moore telah mengenal bahwa pembelahan versi Qur’an ini benar-benar berdasarkan pada fase yang berbeda pada perkembangan prenatal. Beliau telah menggarisbawahi bahwa deskripsi saintifis yang elegan ini lebih komprehensif dan praktis.

Dalam salah satu konferensi yang beliau hadiri, Prof Moore menyatakan berikut ini: “Embrio berkembang di dalam rahim ibu atau uterus dilindungi oleh tiga kegelapan atau tiga lapisan, sebagaimana ditunjukkan pada slide berikutnya. (A) merepresentasikan dinding anterior abdomen, (B) dinding uterus, dan (C) membran amniokorion.

Karena tahapan embrio manusia sangat kompleks, yang memperlihatkan proses berkelanjutan perubahan selama perkembangan, perlu diusulkan perkembangan sebuah sistem klasifikasi yang baru dengan menggunakan istilah-istilah yang disebutkan al-Qur’an dan as-Sunnah. Sistem yang diusulkan sangat mudah, komprehensif dan sesuai dengan pengetahuan embriologi saat ini.”

“Studi intensif mengenai al-Qur’an dan al-Hadits 4 tahun terakhir telah mengungkap sebuah sistem dalam mengklasifikasikan embrio manusia yang benar-benar menakjubkan sejak hal ini diwahyukan pada abad ke-7 M. Walaupun Aristoteles, penemu sains embriologi, menyadari bahwa embrio ayam berkembang secara bertahap dari studinya mengenai telur ayam betina pada abad ke-4 sebelum Masehi, dia tidak memberikan detail apapun mengenai tahapan-tahapan embrio. sepanjang sejarah embriologi, masih sedikit diketahui mengenai tahapan dan klasifikasi embrio manusia hingga abad ke-20.

Untuk alasan inilah, deskripsi embrio manusia di al-Qur’an tidak bisa didasarkan kepada pengetahuan saintifis pada abad ke-7 M. Konklusi yang paling masuk akal adalah, penjelasan mengenai embriologi yang terdapat di al-Qur’an ini dinyatakan oleh Muhammad (Shallallahu 'alaihi wa sallam) dari Allah. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak mungkin mengetahui hal ini begitu mendetail dikarenakan beliau adalah orang yang buta huruf dengan tak ada sedikitpun pengetahuan saintifis.”

Kita berkata pada Dr. Moore, “Apa yang telah anda katakan adalah benar adanya, namun ini masih terlalu sedikit dengan kebenaran dan bukti yang telah kami hadirkan pada anda dari al-Qur’an dan as-Sunnah dan yang berkaitan dengan sains embriologi. Jadi, mengapa anda tidak berlaku adil dan membawa cahaya dari ayat-ayat al-Qur’an dan hadits secara keseluruhan yang berhubungan dengan bidang spesialisasi anda?”

Prof Moore menjawab bahwa beliau telah memasukkan perujukan yang layak pada beberapa tempat yang cocok pada buku sains yang khusus. Biar bagaimanapun, beliau akan mengundang kami untuk memberikan beberapa tambahan islami, menempatkan seluruh ayat-ayat al-Qur’an dan hadits nabi yang relevan, dan menyoroti pelbagai aspeknya yang menakjubkan, untuk ditempatkan pada tempat yang tepat di bukunya.

Hal ini telah selesai, dan oleh karena itu, Prof Moore menulis pengenalan mengenai tambahan islami ini dan hasilnya adalah apa yang telah anda baca sebelumnya. Pada tiap halaman yang memasukkan fakta-fakta mengenai sains embriologi, kami telah menempatkan ayat-ayat al-Qur’an dan hadits nabi yang membuktikan ketiadabandingannya al-Qur’an dan as-Sunnah. Apa yang kita saksikan hari ini adalah islam bergerak ke lahan baru di dalam keadilan dan pengetahuan manusia yang tidak bias.

Tahapan Embrionik

Kami hadirkan pada anda, Dr. G.C. Goeringer, Direktur mata kuliah dan Profesor luar biasa Kesehatan Embriologi pada Jurusan Biologi Sel, Fakultas Kedokteran, Universitas Georgetown, Washington D.C.. kami pernah bertemu dengan beliau dan bertanya kepadanya mengenai sejarah embriologi yang telah disebutkan perkembangan embrio pada beberapa tahapan yang berbeda dan bahwa telah ada buku lain mengenai embriologi pada zaman nabi Muhammad (Shallallahu 'alaihi wa sallam) atau berabad-abad setelah beliau yang juga menyebutkan tahapan-tahapan berbeda ini, atau juga pembelahan kepada tahapan yang berbeda yang hanya bisa diketahui pada pertengahan abad ke-19.

Dia menyatakan bahwa orang Yunani kuno telah memperhatikan studi mengenai embriologi dan banyak diantara mereka mencoba menjelaskan kejadian pada fetus dan bagaimana terbentuknya. Kami setuju dengan beliau bahwa Aristoteles adalah diantara mereka, yang berusaha menguraikan beberapa teori subyek ini, namun adakah penyebutan yang dibuatnya menjelaskan tentang tahapan-tahapan embriologi?

Kami mengetahui bahwa tahapan ini tidaklah diketahui hingga pertengahan abad ke-19 dan belum dibuktikan hingga permulaan awal abad ke-20. Setelah diskusi panjang, Prof Goeringer menyetujui bahwa tak ada penyebutan mengenai fase-fase ini. Lantas kita menanyainya bagaimana jika ada istilah spesifik yang diterapkan pada fase-fase ini sama dengan yang ditemukan di al-Qur’an. Jawabannya adalah negatif.

Kita menanyainya: “Apa pendapat anda mengenai istilah-istilah ini dimana al-Qur’an menggunakannya untuk menjelaskan fase-fase yang terjadi pada fetus?, setelah diskusi panjang, beliau mempresentasikan sebuah studi pada Konferensi Medis Saudi ke-8. Beliau menyebutkan di dalam studinya mengenai dasar ketaktahuan manusia terhadap fase-fase (yang terjadi pada embrio).

Beliau juga mendiskusikan kekomprehensivitasan dan kepresisian istilah al-Qur’an dalam menjelaskan perkembangan fetus dengan pemaknaan istilah yang ringkas dan komprehensif yang membawa kepada pencapaian kebenaran lebih jauh. Mari kita mendengarkan Prof Goeringer yang beliau jelaskan dalam opininya:

“Di dalam beberapa ayat yang bekaitan, mengandung deskripsi yang jauh lebih komprehensif mengenai perkembangan manusia semenjak masa percampuran gamet hingga fase organogenesis. Tak ada yang seterang dan sekomplit riwayat mengenai perkembangan manusia dalam hal klasifikasi, terminologi dan deskripsi yang eksis sebelumnya. Kebanyakan, jika bukan seluruhnya, misalnya, deskripsi ini mendahului berabad-abad periwayatan mengenai tahapan yang berbeda embrio manusia dan perkembangan fetus yang dicatat di dalam literatur saintifis tradisional.

Diskusi dengan Prof Goeringer mengajak kami berbicara tentang fakta yang ditemukan akhir-akhir ini dan dimana akan mengeliminasi berbagai bentuk kontroversi. Walaupun kelahiran Isa dari perawan telah menjadi keyakinan ummat kristani selama berabad-abad, beberapa orang diantara kristiani memaksa, bahwa Isa haruslah memiliki ayah, karena kelahiran dari perawan adalah “mustahil secara saintifis”.

Mereka berargumen dengan hal ini, dan mungkin mereka tidak faham, bahwa ada kemungkinan penciptaan makhluk tanpa ayah. Al-Qur’an menjawab mereka dan telah menggunakan perumpaan penciptaan Adam. Allah berfirman “Sesungguhnya perumpaan penciptaan Isa di sisi Allah, adalah seperti penciptaan Adam. Allah menciptakannya dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah!” maka jadilah ia” (QS Ali Imran 3:59).

Ada tiga macam penciptaan :

- Adam, yang diciptakan tanpa ayah dan ibu.
- Hawa, yang diciptakan tanpa ibu.
- Isa Al-Masih, yang diciptakan tanpa ayah.

Oleh karena itu, Allah yang mampu menciptakan Adam dari tanpa ayah dan ibu tentulah juga mampu menciptakan Isa dari seorang ibu tanpa ayah. Kendati demikian, kaum kristiani masih mendebatnya walaupun Allah telah mengirim kepada mereka petunjuk di atas petunjuk dan bukti di atas bukti.

Dan ketika mereka ditanya mengapa mereka masih mempertahankan pendapatnya dalam kontroversi ini, mereka membantah bahwa mereka tidak pernah melihat ataupun mendengar seseorang diciptakan tanpa ayah dan tanpa ibu. Namun sains modern sekarang mengungkap bahwa banyak hewan dan makhluk hidup di muka bumi ini dilahirkan dan bereproduksi tanpa fertilisasi dari spesies jantan.

Sebagai contoh, lebah jantan tidaklah lebih dari sebutir telur yang tidak difertilisasi oleh jantannya, karena mengingat telur yang telah difertilisasi oleh jantan berfungsi sebagai betina. Lebih jauh lagi, lebah-lebah jantan dihasilkan dari telur ratu tanpa fertilisasi jantan. Masih banyak lagi contoh yang demikian ini di dunia hewan. Lebih jauh, manusia sekarang memiliki pemahaman saintifis menstimulasi telur betina pada beberapa organisme sehingga telur dapat berkembang tanpa fertilisasi dari jantan.

Mari kita membaca kata-kata Prof Goeringer, “Pada beberapa tipe pendekatan, telur tak terfertilisasi pada beberapa spesies amfibi dan mamalia tingkat rendah dapat diaktivasi dengan cara mekanik (seperti menusuknya dengan jarum), fisik (dengan sentuhan panas), ataupun dengan cara kimia dengan cara memberikan sejumlah substansi kimia yang berbeda, dan berlanjut menuju ke tahapan perkembangan. Pada beberapa spesies, tipe perkembangan partenogenetik ini adalah alami.”

Allah telah memberikan kepada kita jawaban yang pasti dan Ia menggunakan Adam yang mereka mengimaninya, sebagai permisalan manusia yang tak memiliki ayah dan ibu. Kaum Kristiani menganggap penyimpangan realita bahwa manusia dapat dilahirkan tanpa ayah. Jadi, Allah telah menunjukkan kepada mereka analogi bahwa manusia ada yang tak memiliki ayah dan ibu, dan ia adalah Adam. Al-Qur’an menyatakan: “Sesungguhnya perumpaan penciptaan Isa di sisi Allah, adalah seperti penciptaan Adam. Allah menciptakannya dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah!” maka jadilah ia” (QS Ali Imran 3:59).

Allah telah mengehendaki bahwa akan ada kemajuan saintifis dan penemuan-penemuan yang akan menyediakan bukti setelah bukti dari kebenaran yang melintasi waktu. Ayat-ayat al-Qur’an menjadi dikenal di kalangan ilmuwan terkenal dan saintis agama kita dan generasi berikutnya. Sains takkan pernah kosong dari keajaiban al-Qur’an.

Dan orang-orang yang diberi ilmu (Ahli Kitab) berpendapat bahwa wahyu yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itulah yang benar dan menunjuki (manusia) kepada jalan Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. (QS Saba’ 34:6)

Allah juga berfirman, Untuk tiap-tiap berita (yang dibawa oleh rasul-rasul) ada (waktu) terjadinya dan kelak kamu akan mengetahui. (QS Al-An’am 6:67)

Dan ia juga berfirman, Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) kami di seluruh ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka baha al-Qur’an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagimu) bahwa sesungguhnya Ia menyaksikan segala sesuatu? (QS Fushshilat 41:53).