Senin, 04 Februari 2013

Macam-macam Pestisida

Macam-macam Pestisida- Berdasarkan tingkat toksisitas (racun) dan kegunaannya, ada 4 jenis pestisida, yaitu golongan A, golongan B, golongan C, dan golongan D. Hama bersaing dengan manusia untuk mendapatkan makanan yang ditanam oleh para petani. Oleh karena itu, jika petani ingin meningkatkan hasil produksinya maka petani harus mengurangi atau membasmi hama tanaman. Pakar kimia telah mengembangkan material untuk mengatasi masalah hama, yaitu dengan cara menggunakan pestisida. Pestisida berasal dari kata pest (perusak) dan cide (membunuh) sehingga kata pestisida dapat diartikan sebagai membunuh perusak. Pestisida adalah zat kimia yang berfungsi mencegah, mengendalikan, atau membunuh serangga (insektisida), tumbuhan (herbisida), dan jamur (fungisida). Penggunaan pestisida makin marak sejak ditemukannya senyawa yang disebut DDT (diklorodifenil-trikloroetan). DDT merupakan senyawa organik yang memiliki kemampuan untuk membunuh insektisida, dengan struktur kimia seperti berikut.
DDT (diklorodifenil-trikloroetana)
DDT (diklorodifenil-trikloroetana)
Kali pertama DDT ditemukan oleh Othmar Zeidler pada 1874. Pada waktu itu belum diketahui manfaatnya. Setelah 65 tahun kemudian, diketahui oleh Paul Mueler bahwa DDT dapat membunuh serangga. Pada 1942, sebuah perusahaan tempat Mueler bekerja memproduksi DDT dan dikirim ke Amerika untuk diuji coba. Pada 1984, Mueler mendapat Hadiah Nobel atas penemuan tersebut. Sejak perang dunia II, DDT digunakan secara luas untuk berbagai tujuan, seperti:
a. menghentikan wabah penyakit yang disebarkan melalui serangga, seperti malaria, demam kuning, dan tifus;
b. membunuh hama tanaman kapas sehingga pada saat itu produksi kapas menjadi melimpah.
Setelah diketahui manfaat DDT bagi pertanian, pestisida jenis lain mulai banyak diteliti dan dikembangkan. Penggunaan pestisida harus hati-hati sebab pestisida yang beredar di pasaran boleh jadi:
a. mengganggu kesehatan manusia;
b. merusak atau mengganggu sistem ekologi lingkungan;
c. menimbulkan kematian bagi serangga tertentu yang justru dibutuhkan untuk membantu kesuburan tanah, seperti bakteri nitrifikasi.
a. Penggolongan Pestisida
Berdasarkan tingkat toksisitas (racun) dan kegunaannya, pestisida dikelompokkan ke dalam empat golongan, yaitu golongan A, golongan B, golongan C, dan golongan D.
1) Pestisida golongan A
Pestisida digolongkan ke dalam kelompok ini didasarkan pada fungsinya, yaitu sebagai insektisida, herbisida, fungisida, dan rodentisida. Isektisida adalah jenis pestisida yang berfungsi mencegah dan membasmi serangga. Isektisida juga digunakan di rumah-rumah untuk membasmi nyamuk, kecoa, laba-laba, dan sejenisnya. Contoh insektisida: DDT, aldrin, paration, malation, dan karbaril. Namun, saat ini penggunaan produk tersebut dalam rumah tangga telah dibatasi. Herbisida adalah jenis pestisida yang berfungsi mencegah dan membasmi tanaman yang merugikan petani seperti alang-alang dan rumput liar. Contoh herbisida: 2,4–D, 2,4,5–T, pentaklorofenol, dan amonium sulfonat.
Fungisida adalah pestisida khusus untuk jamur. Selain racun bagi jamur, juga dapat dipakai untuk racun tanaman dan racun serangga. Contoh fungisida adalah organomerkuri dan natrium dikromat. Rodentisida adalah pestisida khusus untuk membasmi tikus. Contoh rodentisida adalah senyawa arsen.
2) Pestisida Golongan B
Pestisida digolongkan ke dalam golongan B didasarkan pada jenis bahan kimia yang terkandung di dalamnya. Jenis-jenis pestisida yang digolongkan menurut cara ini dapat dilihat pada Tabel 10.8.
Tabel 10.8 Pestisida Golongan B
PestisidaBahan
OrganikKimia organik
AnorganikKimia anorganik
OrganoklorSenyawa karbon mengandung klor
OrganofosfatSenyawa karbon mengandung fosfat
KarbamatSenyawa karbon mengandung asam karbamat
FumiganRacun berasap
MikrobialBahan kimia dari mikroorganisme
BotanikalBahan kimia tanaman
a) Organoklor
Selain DDT, jenis pestisida yang tergolong terklorinasi adalah aldrin, dieldrin, heksaklorobenzena (BHC), 2,4-D dan 2,4,5-T. Aldrin dan dieldrin digunakan sebagai racun serangga (insektisida), sedangkan 2,4- D dan 2,4,5-T digunakan sebagai racun tanaman (herbisida).
Aldrin
Aldrin
Dieldrin
Dieldrin
2,4,5-Triklorofenoksiasetat (2,4,5-T)
2,4,5-Triklorofenoksiasetat (2,4,5-T)
2,4-Diklorofenoksiasetat (2,4-D)
2,4-Diklorofenoksiasetat (2,4-D)
b) Organofosfat
Senyawa pestisida yang mengandung fosfat di antaranya paration dan malation. Kedua senyawa ini tergolong insektisida.
O,O-Dietil-O-p-nitrofeniltiofosfat (Paration)
O,O-Dietil-O-p-nitrofeniltiofosfat (Paration)
S-(1,2-Dikarbetoksietil)-0-0-dimetilditiofosfat (Malation)
S-(1,2-Dikarbetoksietil)-0-0-dimetilditiofosfat (Malation)
Paration sangat efektif digunakan untuk mencegah hama pengganggu buah-buahan, tetapi pestisida ini sangat beracun bagi manusia. Berbeda dengan paration, malation sangat efektif untuk serangga tertentu dan efek racunnya tidak terlalu kuat bagi manusia.
c) Karbamat
Contoh dari pestisida yang mengandung karbamat adalah isopropil N-fenilkarbamat (IPC), sevin, dan baygon.
N-metil-1-naftilkarbamat (Sevin)
N-metil-1-naftilkarbamat (Sevin)
Baygon
Baygon
Isopropil N–fenilkarbamat digunakan sebagai herbisida terutama untuk mengontrol pertumbuhan rumput tanpa memengaruhi tanaman utama. Adapun sevin dan baygon tergolong insektisida.
3. Pestisida Golongan C
Pestisida digolongkan ke dalam golongan C didasarkan pada pengaruhnya terhadap hama. Beberapa jenis pestisida menurut golongan ini terdapat pada Tabel 10.9.
Tabel 10.9 Pestisida Golongan C
JenisPengaruh
RepelantDapat menjauhkan serangga
DefoliantDapat menggugurkan daun
PerencatDapat menggagalkan pertumbuhan
4. Pestisida Golongan D
Pestisida dapat juga digolongkan berdasarkan cara tindakannya terhadap hama. Perhatikan tabel berikut.
Tabel 10.10 Pestisida Golongan D
Jenis RacunCara Tindakan
Racun perutMembunuh jika termakan
Racun sentuhMembunuh jika menyentuh kulit
Racun sistemikMembunuh jika masuk ke dalam sistem organisme
Racun pracambahMembunuh terhadap benih
b. Pengendalian Pestisida
Pestisida yang digunakan untuk meningkatkan produksi pertanian dapat menyebar dan mencemari tempat lain. Jika hal ini terjadi, pestisida dapat meracuni ikan dan merusak ekologi lingkungan. Pestisida dapat juga terakumulasi pada makhluk hidup. Konsentrasi pestisida pada mahluk hidup dapat berlipat ganda akibat berbagai aktivitas. Hasil penelitian menunjukkan, pestisida yang mencemari lingkungan dapat terakumulasi melalui alur seperti pada diagram berikut.
Diagram alir pencemaran Pestisida
Gambar 10.21 Diagram alir pencemaran Pestisida
Oleh sebab itu, pemakaian pestisida perlu dikendalikan guna menghindari masalah-masalah keracunan atau efek samping yang tidak diharapkan. Keracunan dapat terjadi terhadap seseorang jika pestisida termakan atau uapnya terhisap. Dengan demikian, penggunaan pestisida harus selalu mengikuti petunjuk yang benar demi menghindari keracunan terhadap pengguna atau masyarakat umum. Beberapa hal yang perlu diperhatikan jika menggunakan pestisida adalah sebagai berikut.
(a) Kenali jenis hama atau penyakit tanaman yang akan dibasmi.
(b) Kenali keunggulan dan kelemahan setiap pestisida yang terpilih.
(c) Ikuti aturan pemakaian pestisida yang terpilih dan pastikanpemakaiannya tidak mengancam lingkungan sekitarnya.